Tak semua orang bisa menikmati liburan. Pun demikian musim libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2018. Lasiman HS bahkan harus stand by 48 jam. Nonstop sekali jaga. Di Pos Pengamatan Gunungapi Merapi (PGM) Kaliurang.

DWI AGUS, Sleman

KABUT menyelimuti lereng Gunung Merapi beberapa hari ini. Guguran lava menjadi bagian eksotisme gunung api itu untuk diabadikan kamera. Tentu saja tak sembarang orang bisa mengabadikannya. Dari jarak dekat. Karena berbahaya.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta menjadi garda terdepan. Dalam mengabarkan kondisi terkini Merapi. Pemantauan setiap hari tanpa henti. Mulai aktivitas kegempaan, embusan angin, hingga guguran lava. Selalu dikabarkan. Lasiman HS adalah salah satu orang berjasa itu. Yang senantiasa mengabarkan perkembangan Merapi. Total ada lima pos PGM. Ngepos, Babadan, Selo, Jrakah, dan Kaliurang.

Beberapa hari ini Radar Jogja rutin mengunjungi Pos PGM Kaliurang. Untuk meng-up date perkembangan aktivitas Merapi. Sosok Lasiman selalu menyapa.

“Mangga Mas, mau up date informasi ya? ” sapanya saat Radar Jogja menyambanginya beberapa hari lalu.

Pria paro baya ini memang sangat ramah. Di balik kesibukannya, mengamati Merapi, Lasiman tak pernah menolak setiap pertanyaan. Dia bahkan menjelaskan detail terjadinya guguran. Mulai waktu terjadinya, arah guguran, hingga jarak luncur material lava yang muntah dari lubang Merapi.

Bagi Mbah Pecut, sapaan akrabnya, menjaga pos PGM bukan sekadar menjalani pekerjaan sehari-hari. Tapi pengabdian.

“Awal tugas di pos sini (PGM Kaliurang) tahun 1996. Semula hanya mengamati, lantas tertarik menjadi petugas jaga pos,” ungkap Mbah Pecut yang mengaku belajar teknik pengamatan Merapi secara otodidak.

Lasiman sangat mendalami profesinya. Segala konsekuensi dihadapinya. Dengan lapang dada. Karena mengawasi Merapi harus jeli. Tak boleh lengah. Setiap pergerakan harus dilaporkan. Ke BPPTKG Jogjakarta. Untuk diteruskan kepada masyarakat.

Sebagai warga asli Kaliurang Lasiman memiliki alasan tersendiri atas profesinya. Demi pendekatan kepada warga. Sekaligus mengedukasi masyarakat. Akan risiko bahaya erupsi Merapi. Terlebih banyak warga lereng Merapi nekat bertahan, meski gunung sedang bergejolak. Saat itulah Lasiman ikut mengingatkan warga. Agar menjauhi Merapi.

Pengamatan Merapi tak cukup lewat monitor, CCTV, dan seismograf. Kadang, yang lebih sulit, pengamatan visual langsung.

“Tidak kenal libur dan tanggal merah. Kalau makan biasanya pulang ke rumah. Cuma 10 menit,” ungkapnya. Rumah Lasiman memang tak jauh dari Pos PGM Kaliurang. Di pos itu dia pun tak sendirian. Sehingga pengamatan tetap berlaku 24 jam nonstop per hari. Ada dua rekan Lasiman yang siap menggantikannya bertugas. Meski saat sekadar ditinggal makan.

Kondisi pos PGM saat ini sudah banyak berubah. Dulu, peralatan pengamatan lebih sering secara manual. Meski ada komputer, tidak secanggih saat ini. Kemampuan petugas pos dalam pengamatan visual menggunakan teropong menjadi hal terpenting. “Sirine juga manual. Dibunyikan dengan cara di-onthel. Makin kuat ngonthel-nya, suara lebih nyaring,” kenang kakek dua cucu itu.

Digitalisasi pengamatan dengan CCTV pun baru diawali 2008. Beberapa titik puncak mulai dipasangi kamera pengawas jarak jauh. Fasilitas ini tentunya memudahkan para petugas jaga pos PGM dalam bekerja.

Perkembangan teknologi tak membuat Lasiman gagap. Dia tetap mau belajar. Apalagi menjadi tuntutan. Salah satunya tentang aplikasi Magma. Media terbuka mengenai informasi gunung di seluruh Indonesia.

Setiap enam jam sekali Lasiman harus mengunggah informasi perkembangan merapi ke aplikasi tersebut. Mulai kondisi cuaca, arah angin, visual, hingga guguran lava. Ini sudah menjadi aturan baku. Apalagi status Gunung Merapi waspada.