KULONPROGO – Jalur kereta api (KA) kian padat. Namun jumlah perlintasan KA tanpa palang pintu tak berubah. Sedikitnya ada 61 perlintasan KA liar tanpa palang pintu di wilayah PT KAI Daop VI Jogjakarta. Salah satunya perlintasan sebidang Ndipan. Di barat Gedung Kesenian Kelurahan/Kecamatan Wates. Rabu (26/12) perlintasan itu ditutup dengan palang besi.

Humas PT KAI Daop VI Eko Budiyanto mengatakan, perlintasan Ndipan ditutup karena rawan menimbulkan kecelakaan. Dan sering memakan korban. Yang terakhir pada Rabu (19/12) lalu. Dua pelajar terserempet KA Gajah Wong jurusan Jakarta – Lempuyangan, Jogja saat akan menyeberangi rel dengan berboncengan sepeda motor. Beruntung keduanya selamat. Mereka adalah Zulfi Rizal Ikhsan Saputra, 16, siswa SMKN 3 Wates asal Dusun Gubung Rego, Hargorejo, Kokap dan Eka Fatika Sofiyani, 16, penghuni Panti Asuhan Fahrudin, Dusun Tambak, Triharjo, Wates.

Petugas memasang besi baja sebagai penghalang kendaraan yang akan melintas. Tinggi tiang dan lebar palang sekitar dua meter. Tiang palang dipasang di kedua sisi perlintasan. Sisi selatan dan utara rel. Kini kendaraan roda dua tidak bisa lagi melintas di jalur itu. Sejauh ini jalur tersebut sering digunakan warga Kulonprogo sebagai jalan pintas. Dari dan menuju RSUD Wates dan MTSN 1 Kulonprogo.

“Kecelakaan kerap terjadi hingga merenggut korban jiwa,” kata Eko. Menurutnya, jalur perlintasan Ndipan illegal. Dibuat oleh warga setempat. Untuk mempermudah akses. Pemberlakuan jalur rel ganda membuat jalur perlintasan itu kian rawan. Karena intensitas kereta api yang lewat makin banyak. “Penutupan ini (Ndipan) karena jalurnya memang tidak ada. Dibuat fly over, underpass atau dipasang palang pintu tidak bisa. Karena memang tidak resmi,” jelasnya.

Setelah Ndipan, Daop VI Jogjakarta berencana menutup jalur perlintasan KA liar lainnya. Terutama di titik-titik rawan kecelakaan KA.

Taufik Subagyo, 33, warga Wates, mengaku sering melintas di jalur Ndipan. Dia tak mempermasalahkan penutupan jalur itu demi mencegah terulangnya laka kereta. “Saya setuju saja ditutup. Demi keselamatan juga. Karena jalur itu memang sering memakan korban jiwa,” ungkapnya.

Dia berharap penutupan jalur Ndipan disertai sosialisasi bagi warga setempat. Juga dipasang rambu larangan melintas di titik sebelum mendekati jalur perlintasan. Agar masyarakat tidak kecele atau kelabakan karena terlanjur masuk ke jalan sempit yang telah ditutup itu. “Rambu dipasang agak jauh dari perlintasan. Supaya orang yang mau lewat bisa segera mengambil rute memutar,” pintanya. (tom/yog/fn)