JOGJA – Biro Kemahasiswaan dan Alumni (Bimawa) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogjakarta mengadakan pelatihan anti-radikalisme dan anti-korupsi. Pelatihan dilaksanakan di Ruang Serbaguna Lt 10 Kampus 4 UAD, Ringroad Selatan, Kragilan, Tamanan, Banguntapan, Bantul, Minggu (23/12). Seminar diikuti 130 mahasiswa dari UAD (DIJ), Universitas Muhammadiyah Tangerang (Banten), Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Jawa Timur), STIKes Muhammadiyah Bandung (Jawa Barat), dan Universitas Muhyammadiyah Magelang (Jawa Tengah).

Acara terbagi dua sesi. Sesi pertama dengan topik anti-radikalisme dengan narasumber Dr Nunung Priyatni Waluyatiningsih M.Blomed, Apt dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Dilanjutkan topik anti-korupsi dalam lingkungan kampus yang disampaikan Benydictus Siumlala MS dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kepala Bimawa UAD Dr Dedi Pramono M.Hum menjelaskan, harapan dari terselenggaranya kegiatan ini akan memunculkan duta-duta kampus atau komunitas gerakan anti-radikalisme dan anti-korupsi di lingkungan universitas. Selain itu juga memberikan pemahaman tentang makna radikalisme dan korupsi yang sebenarnya kepada mahasiswa.

“Universitas mempunyai peran besar mencegah korupsi. Hal ini dilandasi pemikiran bahwa dunia kampus merupakan salah satu lembaga pendidikan yang akan melahirkan generasi pemimpin yang berperan strategis dalam mencegah dan mengatasi korupsi di negeri ini. Melalui pendidikan, penelitian maupun pengabdian pada masyarakat, kampus berperan besar mencegah korupsi,” urainya.

Kepala Bidang Pengembangan Kemahasiswaan Bimawa Danang Sukantar M.Pd menyampaikan, pelatihan untuk memberikan pembekalan kepada generasi muda, terutama mahasiswa, yang menjadi sasaran utama KPK agar tidak mempunyai karakter bibit-bibit korupsi yang nantinya bisa merugikan negara.

“Harapannya sebagai generasi penerus bangsa sejak awal ditanamkan dan ajarkan kepada mereka untuk tidak toleran terhadap perilaku koruptif yang bisa dimulai dari dunia kampus,” katanya.

Danang mengharapkan kegiatan ini dapat menanamkan sikap anti-korupsi kepada para mahasiswa dan memberikan wawasan tentang apa itu perilaku koruptif. “Sehingga mahasiswa memiliki pemahaman dasar tentang korupsi dan adanya pencegahan agar mahasiswa tidak melakukan tindakan korupsi di lingkungan universitas,” jelasnya.

Dedi menambahkan, kegiatan seperti ini dapat mengangkat ranking UAD dalam Sistem Informasi Manajemen Pemeringkatan Kemahasiswaan (Simkatmawa), yaitu program klasifikasi dan pemeringkatan bidang kemahasiswaan yang dirilis Ditjen Belmawa Kemenristekdikti. “UAD berada di peringkat 58, masuk 100 besar dari sekitar 4.600 PT di Indonesia,” jelasnya.

Beny menegaskan, mahasiswa tidak perlu memusingkan tindak pidana korupsi yang terjadi di tingkat pusat maupun daerah. Mahasiswa sebaiknya fokus untuk melakukan aksi sosial guna mengurangi perilaku koruptif di lingkungan kampus.

“Titip absen, menyontek, plagiarisme, dan manipulasi laporan pertanggung jawaban (LPJ) kegiatan adalah bibit-bibit korupsi yang sangat berbahaya jika tidak dihentikan saat ini juga,” tandas Beny. (*/mg1/laz/fn)