SAMPAILAH saya di istana Kamal Jumlatt. Yang kini ditempati anaknya, Walid Jumlatt. Amir Druze yang bertakhta saat ini.

Sopir yang mengantar saya sangat takut. Saya tahu. Atau menduga. Masih ada trauma di pikirannya. Atau curiga. Akibat cerita yang melegenda. Permusuhan antara kelompoknya. Dengan kelompok Druze sepanjang masa. Masa lalu.

Memang kami tidak diizinkan masuk. Banyak tentara yang menjaga. Tapi saya santai saja.

Dataran tinggi kompleks istana ini indah di mata. Lima jam di situ pun akan saya jalani.

Menunggu redanya ketegangan. Di dalam hati para penjaga itu.

Saya pun menyapa satu persatu orang di situ. Dengan ramah. Saya sapa juga laki-laki tua itu. Yang berpakaian khas orang Druze: celana hitam yang kombor di selangkangannya. Dengan penutup kepala putih. Seperti topi haji. Tapi kecil. Seperti Yahudi.

Luar biasa. Druze tua itu baik sekali. Ramah sekali. Saya justru diajaknya masuk kantin. Yang menjadi bagian istana. Sopir saya ikut. Sambil takut-takut.

Padahal saya justru disuruh makan. Alhamdulillah. Istrinya yang menyajikan makanan: nasi hitam berminyak. Entah makanan apa itu. Saya kuatkan tenggorokan saya. Untuk bertekad memakannya. Apa pun rasanya nanti.
Saya robek juga roti tipis yang lebar itu. Betapa pun liatnya. Saya sendok pula acar zaitun itu. Betapa pun asin kecutnya.

Ternyata itulah nasi bulgur. Baru sekali ini saya makan bulgur. Waktu saya kecil kata bulgur itu terkenal. Dan tercemar. Sudah sering saya mendengarnya. Orang desa ramai membicarakannya. Dengan nada menghina. Dan melecehkannya.
Waktu itu akhir zaman pemerintahan Bung Karno. Tidak ada bahan pangan. Kelaparan di mana-mana. Tidak ada beras. Biasanya, kalau tidak ada beras, terpaksa makan nasi jagung. Tapi jagung juga tidak ada.

Biasanya kami masih bisa dapat bahan makanan yang terjelek: gaplek. Singkong yang dikeringkan. Lalu ditepungkan. Dibuat tiwul. Itulah “kasta” makanan yang paling rendah.

Tapi, zaman itu, gaplek pun tidak ada. Pemerintah membagi sesuatu yang sangat asing. Untuk pegawai negeri. Disebut “beras bulgur”.

Orang desa sangat membencinya. Tidak enak di rasa. Terhina di dada. Istilah “sampai makan beras bulgur” adalah menunjukkan betapa kelaparannya manusia.

Kami tidak mau makan bulgur pembagian itu. Kami pilih makan ganyong. Umbi-umbian yang batang dan umbinya mirip lengkuas.

Atau umbi lain. Yang masaknya sangat sulit: agar tidak gatal di lidah. Saya lupa namanya. Please.

Mencari umbi tersebut juga sulit. Saya harus ke bawah-bawah rimbunan bambu liar. Menggali tanah di situ. Kadang dapat. Kadang tidak. Itulah zaman susah. Dulu.

Kini saya juga lapar. Saat tiba di istana Druze ini. Berangkat dari Beirut tadi saya tidak makan pagi. Hanya makan buah srikaya. Yang banyak sekali di Beirut. Dan enak sekali rasanya. Dan murah sekali harganya.

“Siapa yang masak bulgur ini?” tanya saya ke Druze tua itu.

“Hia,” jawabnya. Sambil menunjuk istrinya. “Hia” adalah bahasa Arab untuk “dia”.

Sedang “hua” bahasa Arab untuk ‘ia’.

“Enak sekali,” kata saya. Tidak mewakili tenggorokan saya.

“Syukron jazila,” kata saya lagi. Druze tua itu tersenyum. Menerima ucapan terima kasih saya dengan sangat senang. Pun isterinya.

Saya ternyata dianggapnya bisa makan bulgur. Bulgur di Lebanon tidak ada hubungannya dengan status kaya-miskin.

Selama saya makan itulah. Beberapa petugas keamanan keluar masuk kantin. Melihat saya. Bertegur sapa.

Ternyata kantin itu bagian dari dapur istana. Yang memasakkan seluruh petugas keamanan di situ. Sekitar 40 orang banyaknya. Druze tua tadi, dan isterinya tadi, adalah juru masaknya.

Bereslah.

Selesai makan itu saya dipersilakan masuk istana. Bahkan tidak perlu mengajari sopir mencuri foto. Saya dibebaskan memotret apa saja.

Sopir saya pun boleh ikut masuk. Dia bersorak keras. Di dalam hati. Dengan semangat lautan api. Meluap. Riang gembira. Luar biasa. Jauh dari bayangannya yang menakutkan.

Dia mengambil foto melebihi saya. Minta difoto pula. Tidak habis-habisnya. Termasuk dengan tentara Druze yang semula menakutkannya.

Dalam perjalanan kembali ke Beirut hebohnya bukan main. Sopir saya itu sangat-sangat happy. Dia telepon teman-temannya. Dia ceritakan kehebatan dirinya: bisa masuk istana Druze di Moukhtara. Dia kirim foto-fotonya. Lewat HP-nya.

Itulah perjalanan lintas batas yang jauh. Baginya. Dari benua Hisbullah. Ke benua Druze.

Saya sendiri sibuk mengamati semua bangunan ini. Dan ruangan-ruangannya.
“Ini ruang khusus,” kata petugas istana.

Di ruang itu ada lukisan Kamal Jumlatt naik kuda. Besar sekali. Dengan heroiknya. Dengan pangkat-pangkat ala Bung Karnonya.

“Biasanya beliau dulu duduk di situ. Menerima pengaduan masyarakat umum,” tambahnya.

Itu adat kerajaan Arab di masa lalu. Rakyat jelata pun bisa langsung mengadu ke raja.

Langsung. Pada hari-hari yang ditentukan. Tanpa seleksi atau mobilisasi.
Tentu saya juga banyak ambil foto. Termasuk foto pohon zaitun tua. Yang baru setahun dipindah ke situ.

Begitu besar pohon zaitun ini. Begitu tua tongkrongannya. Bandingkan dengan pohon zaitun pada umumnya. Yang hanya seperti pohon lamtoro. Bahkan lebih kecil dan pendek lagi.

Saya juga tertarik pada bangunan baru. Yang menempel serasi di istana itu. Dengan arsitektur postmonya.

Lamat-lamat terbaca tulisan Arab “Allah” di atas sana. Lalu terbaca tulisan “Nas” jauh di bawah sana. Menandakan Tuhan dan Manusia.

Ternyata itu masjid.

Saya kaget. Druze punya masjid. Setengah tidak percaya. Saya masuk ke dalamnya. Masjid beneran.

Banyak Alquran. Banyak rehal, tempat baca Alquran, di lantai.

Saya buka Alquran itu. Tidak ada beda. Tapi juga tidak ada orang salat di dalamnya.

“Itu masjid Druze?” tanya saya. “Bukan. Itu masjid moslim biasa,” jawab tentara di pos penjagaan itu.

Oh. Begitu. Ya sudah.

Druze memang tidak punya masjid. Tapi dibangunnya masjid di istana Druze ini pertanda-pertanda. Mendekatkan yang sebenarnya sudah dekat. (yog)