Pembentukan desa tangguh bencana (destana) dan kelurahan tangguh bencana (katana) serta sekolah siaga bencana (SSB) sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2012-2017 dan RPJMD 2017-2022 Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Salah satu kegiatannya berupa kesiapsiagaan dan pencegahaan bencana. Harapannya, semua itu dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dan sekolah agar tangguh dan memiliki kesiapan menghadapi ancaman bencana.

“Sejak 2012 sampai saat ini sudah ada 213 desa tanggap bencana, dari total 301 desa yang rawan bencana di DIY. Kami harap di akhir 2021 sudah terbentuk di semua desa,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Biwara Yuswantana Kamis (27/12).

MASUK RPJMD DIY: Kepala BPBD DIY Biwara Yuswantana memberikan pengarahan. Sejak 2012 sudah terbentuk 213 destan dari total 301 desa se-DIY.

Selain membentuk destana dan katana, BPBD DIY terus mengevaluasi pelaksanaan destana dan katana. Dia mengibaratkan destana dan katana seperti halnya kendaraan. Agar siap pakai, maka perlu terus dirawat maintenance-nya.
Monitoring, evaluasi dan pembinaan juga terus dilakukan. Untuk menjaga semangat desa dan kelurahan, BPBD DIY melakukan pendekatan melalui penyelenggaraan lomba destana/katana.

Sebelum digelar lomba didahului dengan pembinaan dan pelatihan oleh BPBD kabupaten/kota se-DIY. Menurut Biwara, evaluasi dan monitoring penting dilakukan. Termasuk mengecek perangkat dan fasilitas kebencanaan. Seperti petunjuk jalur evakuasi, titik kumpul dan perlengkapan. Meskipun esensin pembinaan, namun tetap ada penilaian dan kriteria untuk lomba destana/katana.

“Jalur evakuasi yang mungkin sudah miring. Lokasi titik kumpul perlu dicek lagi,” tuturnya.

Dijelaskan, DIY termasuk daerah bencana hidrometeorologi. Yaitu daerah rawan bencana dengan parameter-parameter curah hujan, kelembaban, temperatur, angin dan meteorologi. Juga kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, El Nino dan La Nina. Kemudian longsor, tornado, angin puyuh, topan dan angin puting beliung serta gelombang.

ASPIRASI MASYARAKAT: Perwakilan juara lomba destana/katana menyampaikan unek-unek. Mereka berharap terus ada pendampingan dari BPBD DIY. (RIZAL SN/RADAR JOGJA)

“Tanah longsor itu yang sulit dideteksi. Itu yang beberapa kali kecolongan. Di wilayah selatan ada potensi gempa dan tsunami, ditambah Merapi di sisi utara. Mitigasi bencana di setiap daerah menyesuaikan,” bebernya.

Karena itu salah satu kuncinya adalah peningkatan kapasitas masyarakat. Ini menjadi fokus dalam upaya mitigasi. Masyarakat setempat lebih tahu, paham dan bisa mengidentifikasi setiap ancaman bencana. Misalnya mereka yang tinggal di dekat jurang dan aliran jalur air. Warga punya kepekaan melihat tanda-tanda alam sebelum terjadi bencana.

“Biasanya dimulai hujan deras. Ada pergerakan tanah, atau aliran air keruh dan pohon miring. Apalagi kalau hujan deras berdurasi lama, maka perlu waspada. Evakuasi diri ke lokasi yang aman,” ungkapnya.

Melalui lomba destana/katana dia berharap dapat meningkatkan kapasitas desa. Terutama para perangkatnya. Itu agar mereka lebih peka terhadap isu kebencanaan. Sebab, kebencanaan saat ini sudah jadi urusan wajib bagi daerah. Bahkan desa seharusnya mengalokasikan anggaran peningkatan kapasitas dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Ada 20 indikator yang menjadi penilaian di lomba destana/katana. Di antaranya, sudah adakah peraturan desa (perdes) mengenai tanggap bencana. Alokasi anggaran, lembaga dan fungsinya. Dengan begitu, isu kebencanaan di daerah rawan berbasis masyarakat terwadahi melalui destana/katana dan SSB.
“Lomba destana/katana ini penyelenggaraan pertama. Masih banyak yang perlu dibenahi,” ujarnya.

GUGAH SEMANGAT: Lomba ini perlu dilanjutkan di tahun-tahun mendatang agar masyarakat selalu siap dan waspada menghadapi ancaman bencana.

Ke depan diharapkan lomba destana/katana dapat berjalan lebih baik. Sebelum di tingkat DIY perlu diadakan di masing-masing kabupaten/kota. Tahun depan, BPBD DIY kembali menggelar kegiatan seruapa. Pertimbangannya, dalam lomba perdana itu antusiasme dan respons masyarakat dinilai cukup positif. (riz/kus/fn)