JOGJA – Sempat isukan ditangkap sehari sebelumny6a, anggota Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Dwi Irianto akhirnya benar-benar ditangkap Satgas Antimafia Bola Polri Jumat (28/12). Saat diciduk, pria yang akrab disapa Mbah Putih ini tengah berada di Hotel New Saphire Jogja.

Salah seorang anak Mbah Putih, Berlandika Chandra Pramdikta, membenarkan peristiwa penangkapan ayahnya itu. Mbah Putih ditangkap di hotel yang berjarak sekitar 1 Km dari rumahnya itu pada pagi hari. Dari New Saphire, Satgas Antimafia Bola sempat membawa Mbah Putih menuju ke kediamannya, di daerah Demangan, Gondokusuman, Kota Jogja.

“Ada sekitar 10 orang yang mengantar ke rumah. Kemudian mereka mengambil dokumen dan berkas-berkas yang berkaitan dengan aktivitas bapak di sepak bola,” jelas pria yang akrab disapa Dika ini saat ditemui wartawan di kediamannya.

Pihak keluarga sendiri mengaku kaget dengan penangkapan tersebut. Sebab, sebelumnya tidak ada pemberitahuan dari pihak kepolisian terkait status Dwi dalam pusaran kasus pengaturan skor maupun penyuapan.

Pihak keluarga menerima surat penangkapan setelah Mbah Putih dibawa dari Hotel New Saphire. “Surat penangkapan ada. Saya ikut tanda tangan. Isinya pengembangan kasus yang kemarin,” jelas Dika.

Dari rumahnya, Mbah Putih sempat dibawa ke Mapolsek Gondokusuman, sebelum akhirnya diboyong ke Jakarta sekitar pukul 14.00. Selama proses itu, tidak ada kuasa hukum yang mendampingi Mbah Putih.

Dijelaskan, pihak keluarga belum sampai tahap menyiapkan pengacara. Pasalnya, sejauh ini belum ada status hukum yang pasti terkait penangkapan komisaris utama PT PSIM Jaya itu. “Kami akan lihat perkembangan status bapak dulu. Jadi belum sampai ke arah sana,” jelasnya.

Saat disinggung keperluan ke Hotel New Saphire, anak kedua Mbah Putih ini mengaku tidak mengetahui secara pasti keperluan orang tuanya berada di hotel yang terletak di Jalan Laksda Adisutjipto itu. ”Saya tidak mengetahui secara pasti kapan bapak pergi ke sana (hotel, Red),” ungkapnya.

Secara mental, jelasnya, keluarga sudah siap apa yang terjadi. Sebab, setelah nama Mbah Putih disebut-sebut dalam program Mata Najwa, orang tuanya sudah berpesan kepada anak-anaknya atas kemungkinan terburuk yang terjadi.

”Sudah dipesankan untuk jaga mama, jaga rumah dan keluarga,” ujarnya.

Sehari sebelum penangkapan, Radar Jogja sempat bertemu Dwi Irianto di kediamannya Kamis (27/12) petang. Ketika itu dia mengaku belum menerima surat pemberitahuan dari Satgas Antimafia Bola perihal status hukum yang menimpa dirinya.

Namun, dari percakapan itu, Mbah Putih memiliki firasat tidak lama lagi polisi akan menyambangi dirinya. Apalagi, koleganya Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah Johar Lin Eng sudah ditangkap lebih dulu sehari sebelumnya.

“Saya sudah sampaikan ke anak-anak untuk tetap kuat dan menjaga istri saya. Kalau ke istri saya tidak cerita,” kata Mbah Putih, kala itu.

Seperti diketahui, nama Mbah Putih sendiri mencuat di program Mata Najwa yang membahas soal mafia sepak bola dan pengaturan skor. Dalam tayangan itu, Manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani menjabarkan secara rinci dana yang harus dikeluarkan untuk berkompetisi di Liga 3 Asprov. Mbah Putih disebut menerima uang Rp 15 juta dan Johar menerima uang Rp 25 juta.

Setelah kasus ini mencuat, Dwi pun dinonaktif dari keanggotaan Komdis PSSI. Ketua Komisi Disiplin PSSI Asep Edwin mengataan, pihaknya tak lagi melibatkan Dwi dalam pengambilan keputusan, sejak namanya tercuat terkait pengaturan skor di sebuah stasiun televisi.

Terakhir, pada rapat Komdis terkait kasus yang melibatkan PS Mojokerto Putra, di mana dalam kasus itu PSMP dihukum tidak boleh mengikuti kompetisi pada musim mendatang. “Kesepakatan di Komdis PSSI, sementara untuk surat keputusan tidak ada nama dia (Dwi Irianto, Red),” jelas Asep. (bhn/laz/fn)