BANTUL – Ini peringatan bagi orangtua yang memiliki anak sekolah. Terutama, orangtua yang mengizinkan anaknya mengendarai sepeda motor untuk pergi ke sekolah. Sebab, angka kecelakaan lalu lintas (lakalantas) sepanjang 2018 meningkat cukup signifikan. Mencapai 1.617 kasus. Angka ini meningkat 308 kasus dibanding data lakalantas 2017. Yang memprihatinkan, 15 persen kasus di antaranya melibatkan pelajar.

Kasatlantas Polres Bantul Cerryn Nova Madang Putri mengungkapkan, ada banyak faktor pemicu cukup tingginya angka lakalantas yang melibatkan pelajar. Yang paling sering dilontarkan pelajar adalah jarak antara rumah dan sekolah jauh. Sementara orangtua tidak punya waktu untuk mengantarkan anaknya.

”Sehingga mereka (pelajar) diizinkan untuk mengendarai sepeda motor oleh orangtuanya,” jelas Nova, sapaannya, Jumat (28/12).

Tingginya angka lakalantas ini juga hampir berbanding lurus dengan jumlah pelanggaran lalu lintas (lalin). Nova menyebut pelanggaran sepanjang 2018 naik sekitar persen dibanding 2017. Dari 23.176 menjadi 24.334 kasus. Lagi-lagi pelajar ikut menyumbang jumlah pelanggaran lalin. Bahkan, mendominasi.

”Mayoritas pelanggar usia produktif. Biasanya, anak sekolah yang belum punya SIM,” tuturnya.

Menurutnya, pengendara yang meninggal dunia sia-sia akibat lakalantas pada 2018 juga cukup tinggi. Mencapai 133 orang. Luka berat dua orang, dan yang mengalami luka ringan 2.367 orang.

”Kerugian materi Rp 691 juta lebih,” kata Nova menyebut denda tilang pada tahun ini Rp 1,2 miliar. Atau naik Rp 200 juta dibanding 2017.

Dalam kesempatan itu, Nova juga menyinggung tingginya pengendara yang mendapat teguran petugas. Teguran ini biasanya diberikan kepada pengendara yang melakukan pelanggaran ”ringan”. Seperti penduduk sekitar yang tidak menggunakan helm.

”Ada 39.212 teguran,” tambahnya.

Kapolres Bantul AKBP Sahat Marisi Hasibuan mengingatkan agar orangtua tidak sembarangan mengizinkan anaknya mengendarai sepeda motor. Meski sekadar untuk berangkat ke sekolah. Sebab, hal itu bisa berakibat fatal. (ega/zam/fn)