Hanya bermula dari satu rumah, Kampung Batik Siber Kreasi berkembang menjadi sentra kerajinan batik. Wisatawan tidak sekadar berbelanja, tapi juga dapat berswafoto plus praktik membatik.

GUNAWAN, Gunungkidul

Begitu memasuki Pedukuhan Kepek 1, Desa Kepek, Kecamatan Wonosari langsung terlihat suasana berbeda. Khas. Semua serbabatik. Mulai dari pintu masuk, hingga ke sudut-sudut gang. Bahkan, goresan-goresan khas bermotif batik juga menghiasi tembok rumah warga. Instagramable! Itulah Kampung Batik Siber Kreasi (KBSK).

Di sini, wisatawan tidak sekadar dapat berswafoto dengan background khas. Melainkan juga berbelanja salah satu oleh-oleh Kota Gaplek: batik. Yang menarik lagi, wisatawan juga dapat melihat langsung proses pembuatan batik.
”Bahkan, juga bisa praktik membatik. Ada lembar kain yang disediakan untuk wisatawan,” jelas Ketua KBSK Guntur Susilo kepada Radar Jogja pekan lalu.

Di sela kesibukkannya mempersiapkan KBSK menyambut musim liburan panjang tahun baru, Guntur, sapaannya, tetap terlihat semringah. Dia puas dengan perkembangan kampung batik yang diresmikan Kementerian Komunikasi dan Informatika 2 Oktober lalu ini. Seluruh warga setempat bersemangat berkarya. Semangat itu sejalan dengan pendampingan yang diberikan KBSK. Ya, pengelola KBSK intens memberikan pendampingan kepada perajin batik di beberapa desa. KBSK juga mengarahkan seluruh produk batik dijual di rumah-rumah yang ditunjuk sebagai showroom.

”Ada 15 rumah yang digunakan untuk men-display batik karya warga,” sebutnya.

Padahal, Guntur mengisahkan, semula hanya ada satu rumah yang dijadikan sebagai showroom. Seiring waktu berjalan, permintaan batik di KBSK meningkat. Roda perekonomian masyarakat pun berputar.

Seperti sentra kerajinan batik di DIJ, KBSK memiliki beberapa motif khas yang dijual. Lantaran setiap satu desa binaan mempunyai motif andalan. Desa Gari, contohnya, punya motif selogupito.

”Kalau di sini (KBSK) andalannya motif manding,” tuturnya.
Sebagian produk batik di KBSK menggunakan pewarna alami. Dari itu, harganya cukup lumayan. Satu lembar batik dibanderol Rp 400 ribu hingga jutaan rupiah. Harga tergantung motif maupun tingkat kesulitan dalam pembuatannya.

Kesuksesan KBSK ini menyedot perhatian berbagai kalangan. Salah satunya dari kalangan seniman. Mayor Sunaryanta, pemerhati seni Gunungkidul mengapresiasi kreativitas pelaku UKM di KBSK. Dia optimistis produk kerajinan batik di KBSK dapat menembus pasar nasional. Bahkan, internasional. Dengan catatan dikonsep dengan lebih matang.

”Harus ada perhatian yang lebih agar Gunungkidul semakin memiliki nama di balik batik yang dilestarikan,” katanya.

Sebagai bentuk dukungan, Sunaryanta berencana menggagas event untuk memamerkan batik produksi Gunungkidul. Konsepnya berupa fashion show, tapi disinergikan dengan alam plus kesenian lokal.

”Nanti lokasinya di gua,” tambahnya.