KULONPROGO – Ribuan pekerja New Yogyakarta International Airport (NYIA) terancam kehilangan hak pilih. Sebab mereka berasal dari luar Kulonprogo.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kulonprogo pun melakukan koordinasi dengan pelaksana proyek NYIA. Supaya hak politik ribuan pekerja NYIA tetap bisa digunakan.

Ketua KPU Kulonprogo, Ibah Mutiah mengatakan, 3.000 pekerja NYIA berasal dari luar Kulonprogo. Angka tersebut didapat dari pihak proyek NYIA.

“Itu data dari koordinasi awal. Kami akan ke NYIA lagi besok Kamis (3/1) untuk update data pekerja,” kata Ibah Mutiah (1/1).

Pendataan pekerja di proyek NYIA tidak mudah. Sebab proyek triliunan rupiah tersebut melibatkan banyak subkontraktor. Perlu koordinasi agar data jumlah pekerja yang diberikan valid.

“Belum lagi, ada informasi akan terjadi penambahan pekerja pada awal 2019 ini,” kata Ibah Mutiah.

Anggota KPU Kulonprogo, Pujarasa Satuhu mengatakan, selain NYIA, beberapa proyek di Kulonprogo juga melibatkan ribuan pekerja. Di antaranya pembangunan underpass (150 pekerja), proyek RSUD (450 pekerja), normalisasi sungai di Panjatan (400 pekerja) dan Jogja Technopark (500 pekerja).

“Kami terus berupaya agar mereka bisa menggunakan hak pilihnya,” kata Pujarasa Satuhu.

KPU Kulonprogo juga berkoordinasi dengan KPU Pusat terkait persoalan tersebut. Karena menyangkut kebutuhan logistik pemilu. Apalagi cadangan logistik hanya dua persen yang menjadi kewenangan TPS (tempat pemungutan suara).

Anggota Badan pengawas Pemilu (Bawaslu) Kulonprogo, Panggih Widodo mengatakan, pihaknya terus mengawasi tahapan pemilu. “Kami berharap hak- hak pekerja NYIA terlindungi. Jangan sampai mereka kehilangan hak politiknya,” kata Panggih Widodo. (tom/iwa/fn)