KULONPROGO – Garis pantai selatan Kulonprogo tak lagi tampak biru hijau. Melainkan cokelat tanah. Apalagi setelah turun hujan. Air sungai di bagian hilir keruh bercampur lumpur dan sampah.  Hal ini bukan saja mengganggu keindahan pemandangan alam pantai selatan. Pun demikian saat dilihat dari udara. Lebih dari itu, tumpukan sampah telah menjadi musuh utama para nelayan. “Kalau di pantainya seperti itu, bisa dibayangkan sampah yang ada di tengah laut. Kami sering kehabisan jaring untuk berburu ikan, musuhnya ya sampah-sampah itu,” ucap Ngudiwaluyo, salah seorang nelayan Pantai Glagah.

Meski dari bibir pantai warna air laut terlihat biru bening, lanjut dia, kondisi sesungguhnya tidak demikian. Ngudiwaluyo mengaku saat melaut kerap merasakan tangan, kaki, dan tubuhnya seperti ketempelan lendir. “Kotornya melebihi yang Anda lihat. Suatu ketika saya turun melaut seperti halnya mencangkul di sawah, kotor sekali,” bebernya.

Sampah juga mengurangi kenyamanan wisatawan pantai selatan. Seperti diungkapkan Yulius, 40, asal Salatiga. Menurutnya, pantai di Kulonprogo memiliki kelebihan dibanding lainnya. Pasirnya hitam berkilau, ombaknya besar dan bagus diabadikan sebagai objek foto. Saat senja, kata Yulius, siluet matahari terbenam dengan latar garis pantai yang panjang luar biasa indahnya. “Namun saya sungguh sedih melihat pantai yang kotor karena sampah,” sesalnya.

Belum lama ini dia berkunjung di Pantai Trisik dan menjumpai banyak botol plastik dan bekas bungkus makanan. “Bahkan tas rusak hingga kasur bodhol pun ada. Mengotori pantai,” ungkapnya.

Menurut Yulius, sampah di pantai tak boleh dibiarkan. Harus ada antisipasi dan edukasi bagi masyarakat. Pemerintah tidak boleh berpuas diri atas upaya sosialisasi sampah. “Berwisata tapi banyak sampah, rasanya kok tidak nyaman. Mau belanja makanan dan minuman juga takut kotor,” jelas Yulius.

Ribuan ikan, penyu, dan binatang laut lainnya terancam. Oleh residu sampah. Bukan tidak mungkin hewan-hewan laut terkontaminasi racun sampah. “Jika dikonsumsi manusia, tentu berbahaya juga,” ucap Yulius.

Pantauan Radar Jogja akhir Desember 2018, tumpukan sampah mengapung di muara Sungai Serang yang membelah wilayah Kulonprogo. Bermuara di kawasan Obyek Wisata Pantai Glagah, Temon, Kulonprogo. Pasang surut air laut yang merambat di aliran Sungai Serang selalu diwarnai sampah.

Kondisi itu kadang diperparah lonjakan wisatawan selama libur panjang. Hampir sebagian besar pelancong meninggalkan jejak sampah di lokasi objek wisata. Adanya papan imbauan atau larangan tidak membuang sampah sembarangan seolah tak ada manfaatnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kulonprogo Arif Prastowo menyatakan, masyarakat perlu disadarkan untuk peduli terhadap lingkungan. Khususnya sungai. “Kalau bersih dari sampah, aliran sungai lebih lancar. Saat musim penghujan bisa meminimalisasi banjir,” katanya.

Arif menegaskan, mengatasi masalah sampah bukan hanya menjadi tugas pemerintah. Tapi tanggung jawab bersama masyarakat. Karena itu Arif mewanti-wanti masyarakat untuk tak membuang sampah sembarangan. Apalagi di sungai. Sebaliknya, masyarakat harus mampu mengelola sampah. Agar lebih berdaya guna. (tom/yog)