Banyak profesi untung besar selama musim liburan Nataru 2019. Tentunya, yang paling diuntungkan adalah para pengusaha jasa pariwisata. Agen tour and travel bahkan bisa meraup laba hingga puluhan juta.

SEVTIA EKA NOVARITA – ROTUN INAYAH, Jogja

AHMAD Rokhis Sadidul Wafa menjadi salah seorang yang ikut merasakan berkah musim liburan Nataru 2019. Bagaimana tidak, sebagai pemandu wisata dia kebanjiran order. Rombongan siswa sekolah adalah klien utamanya. Pria 25 tahun itu memang belum terlalu lama menggeluti dunia tour gaet. Dia mulai aktif sebagai pemandu wisata sejak dua tahun terakhir. Bergabung dengan perusahaan Bintang Puspa Wijaya. Namun Rokhis telah merasakan “basah”-nya dunia pariwisata.

Saat hari biasa Rokhis melayani rombongan wisatawan keluarga atau perusahaan swasta. Masuk musim liburan sekolah, giliran ratusan siswa harus dia layani. Terutama siswa sekolah dasar. Kota Jogja menjadi jujugan utamanya.
Perusahaannya menyediakan sarana transportasi, penginapan, dan tour city sesuai pesanan klien.

“Biasanya model study tour,” ungkapnya kepada Radar Jogja Jumat (4/1). Kawasan Malioboro sudah pasti menjadi tujuan utama. Selain Tugu Pal Putih Jogja. Puas berputar-putar di Kota Jogja, Rokhis akan membawa rombongannya ke objek-objek wisata alam di seputaran Bantul atau Sleman.

Soal tarif, Rokhis mengaku ada perbedaan dibanding hari biasa. Saat musim liburan naik 10 persen per paketnya. Tarif per paket ditawarkan mulai dari Rp 150 ribu. Hingga jutaan rupiah. Tergantung jumlah rombongan. Dari mengelola rombongan sekolah saja, Rokhis mengaku, perusahaannya yang berkantor di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul bisa meraup keuntungan antara Rp 11 juta hingga Rp 40 juta. Dari situ sudah tentu Rokhis berhak mendapatkan tambahan honor yang cukup menggiurkan.

Belum lagi keuntungan dari hasil kerja sama dengan toko oleh-oleh. Sudah pasti ada fee dengan nilai tertentu. Dengan nominal beragam.

Usaha jasa rental mobil pun tak kalah untung. Seperti dialami Reza Faizal Rahmat, 29. Selama liburan nataru lalu jumlah penyewa mobil di tempat usahanya meningkat dua kali lipat. Untuk mendongkrak keuntungan, Reza pun menaikkan ongkos sewa mobilnya. Mulai Rp 650 ribu per hari atau Rp 600 ribu per 12 jam. Berlaku selama musim liburan (peak season). Ada selisih Rp 100 ribu dibanding hari normal. “Itu sudah termasuk bahan bakar dan sopir yang sekaligus sebagai pemandu wisata,” ujarnya.

Seperti halnya Rokhis, Reza juga menawarkan tiket wisata, hotel, dan tour city kepada wisatawan. Dia juga menggandeng toko oleh-oleh. Dibanding hari biasa, pendapatannya selama liburan akhir tahun naik hingga 50 persen.

Yitno Wiyono (ROTUN INAYAH/RADAR JOGJA)

Kusir andong pun tak kalah untung. Yitno Wiyono, salah satunya. Kakek 74 tahun itu mengaku bisa membawa penumpang hingga tujuh kali lebih banyak dibanding hari biasa. Dia juga menaikkan tarif jasanya selama liburan. Menjadi Rp 200 ribu sekali angkut. Lalu lintas macet, jarak tempuh lebih lama, hingga banyaknya calon penumpang andong menjadi alasan Yitno menaikkan tarif. Sementara pada hari normal lebih variatif. Antara Rp 50 ribu – Rp 100 ribu.

“Itu pun kalau hari biasa bisa dapat Rp 200 ribu sudah mewah sekali. meski hanya cukup untuk makan kuda dan keluarga,” ungkapnya. (yog/fn)