JOGJA – Pelatih panahan Budi Widayanto mengaku cukup sulit mempersiapkan dua agenda sekaligus yakni Pekan Olahraga Nasional (PON) dan Pekan Olahraga Daerah (Porda) 2019. Sebab, di saat persiapan menjelang PON, kemungkinan Porda diadakan bulan Oktober.

“Sedangkan tiap atlet bisa unggul di satu kategori di Porda, tapi di PON untuk kategori lain,” jelas Budi kepada Radar Jogja saat latihan di Lapangan Kopertis V, Jogja, Sabtu (5/1).

Fauzia Putri misalnya yang unggul di Porda kategori standard bow. Namun jika berlaga di PON, jika tetap di kategori itu terlalu banyak pesaing yang lebih unggul. Di tingkat nasional justru akan unggul di recurve.

“Takutnya kami menggenjot di Porda, malah di PON nggak maksimal,” ujar Budi. Di sisi lain, Porda juga batu loncatan para atlet yang tidak bisa dilewatkan. Maka dari itu, ia memutuskan memberi porsi latihan untuk Porda secukupnya, sisanya untuk PON.

Dikatakan, bagaimana pun ajang yang lebih tinggi harus diprioritaskan. PON yang digelar tahun depan harus dipersiapkan dengan matang jika ingin bersaing dengan kontingen lain. “Kami harus berjuang keras untuk meraih prestasi di tingkat nasional,” jelasnya.

Kendala lain yang sampai saat ini masih dihadapi adalah sarana latihan. “Saat ini kami menggunakan Lapangan Koperti dan Kenari. Sedangkan lapangan ini juga digunakan cabor lainl sehingga harus bergantian,” jelasnya.

Padahal agar mencapai hasil maksimal, atlet perlu berlatih dengan intensitas tinggi. “Setidaknya enam kali seminggu,” jelasnya. Namun, hal itu tidak bisa dilakukan karena harus bergantian dengan sesama atlet panahan yang mencapai 60 lebih maupun dengan cabor lain.

Melihat prestasi yang gemilang, ia berharap ada fasilitas tambahan untuk mendukung para atlet meningkatkan prestasinya. November tahun lalu DIJ berhasil mendapatkan juara umum. Titik Kusuma Wardani dan Okka Bagus Subekti yang berhasil medali di SEA Games juga berasal dari Jogja. (cr10/laz/fn)