KULONPROGO – Leptospirosis masih menjadi ancaman serius bagi warga Kulonprogo. Kendati terjadi tren penurunan kasus, ancaman kematian terhadap penderita semakin tinggi.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo, pada 2017, penderita Leptospirosis ada 77 orang. Sembilan di antaranya meninggal dunia. Pada 2018 jumlahnya 26 kasus. Yang meninggal dunia lima orang.

“Ancaman penyakit ini cukup serius kendati jumlahnya turun,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinkes Kulonprogo, Baning Rahayujati (7/1).

Dijelaskan, tren serangan Leptospirosis di Kulonprogo terjadi di seluruh kecamatan. Usia penderita 15 tahun ke atas. Sebagian besar tertular di areal persawahan dan ladang saat becocok tanam atau merumput.

“Ada juga kasus leptospirosis di pegunungan seperti di Kokap. Kendati tidak ada sawah, penderita terkena kencing tikus hutan. Binatang mengerat itu terdeteksi mengidap bakteri Leptospira interrogans,” jelasnya.

Leptospirosis disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini. Beberapa jenis hewan yang dapat menjadi pembawa penyakit ini adalah anjing, tikus, sapi, atau babi.

“Paling banyak vektor penularnya adalah tikus. Kami mengimbau masyarakat waspada. Sebisa mungkin menghindari kontak langsung dengan air seni tikus. Kalau sudah terlanjur, basuh dengan deterjen, atau mandi,” ujar Baning.
Dikatakan, gejala klinis pasien terjangkit leptospirosis diawali demam dan nyeri betis. Jika terlambat ditangani bisa mengakibatkan kematian. Kalau muncul gejala tersebut segera periksakan ke dokter.

Bisa langsung dibawa ke Puskesmas untuk disuntik antibiotik. Langkah ini dinilai masih manjur.

‘’Tapi kalau terlambat bisa mengakibatkan gagal ginjal. Harus cuci darah. Biasanya berlangsung tiga sampai lima hari dari awal demam. Jika tidak segera diobati, penderita sulit tertolong,” ingat Baning.

Dinkes terus melakukan penyuluhan bahaya Leptospirosis melalui Puskesmas. Jika terdapat temuan, akan dilakukan penyelidikan epidemiologi.
“Penyakit ini potensial menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Standard Operating Procedures (SOP)-nya sama seperti temuan DBD, Malaria, Anthrax, Mers, H5N1, H1N1 dan Rabies,” kata Baning.

Kepala Dinkes Kulonprogo, Bambang Haryatno menambahkan, warga diharap menjaga kondisi tubuh tetap fit. Agar tidak gampang terserang penyakit. Ditambah pola hidup bersih dan sehat.

“Cara ini ampuh sebagai antisipasi terhadap penyakit apapun. Makanya kami mendukung sekali Gerakan Jumat Bersih,” kata Bambang.

Selain Laptospirosis, Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebarkan nyamuk Aedes Aegypti juga diwaspadai. “Saya harap masyarakat lakukan antisipasi. Jangan hanya andalkan Dinkes meski kami juga melakukan upaya antisipasi dengan foging dan penyuluhan,” ujar Bambang. (tom/iwa/fn)