MAGELANG – Dibangun dengan biaya lebih dari Rp 2 miliar, Terminal C Magersari, Magelang Selatan justru seperti bangunan mangkrak. Karena hampir setiap hari, tidak ada aktivitas keluar masuk angkutan umum pada terminal yang dibangun melalui APBD 2017 tersebut.

Padahal terminal yang dibangun di atas tanah 1.500 m2 tersebut, diproyeksikan untuk menutup kehilangan PAD sekitar Rp 575 juta per tahun dampak pengambilalihan Terminal Tidar oleh Kementerian Perhubungan.

Anggota Komisi C DPRD Kota Magelang Moch Haryadi mengatakan, pihaknya sudah mempertanyakan hal ini kepada Dinas Perhubungan (Dishub). Alasan Dishub kala itu, sopir angkot tidak mau masuk ke Terminal Magersari, karena dapat mengurangi pendapatan sopir. Sisi lain, jalan masuk terminal tersebut terlalu tinggi, sehingga menyulitkan manuver saat berbelok “Kami sudah rapat September 2018. Jawaban tidak masuk akal. Berarti ada yang tidak tepat dari perencanaannya,’’katanya.

Politisi Partai Golkar itu pun menilai perencanaan telah gagal.Sehingga terminal di area Sentra Ekonomi Lembah Tidar (SELT) itu tidak berfungsi optimal. Terlebih, biaya pembangunan yang tidak sedikit tapi sampai sekarang belum ada pemasukan sama sekali. “Jelas pemkot merugi karena tidak ada pemasukan dari terminal ini,’’ tegasnya.

Menurutnya, sebenarnya, tinggal dinas terkait berani atau tidak kendaraan yang sudah direncanakan masuk ke terminal ini direalisasikan. Apalagi, angkot yang berhenti di area Gunung Tidar sangat mengganggu pengguna jalan.

Kasi Angkutan dan Terminal Dishub Kota Magelang, Noor Singgih menjelaskan, sebenarnya terminal ini tidak mati sama sekali. Sebab, setiap pagi tetap ada angkot yang masuk ke terminal untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. “Hanya saja memang, angkot mau masuk ke terminal karena ada petugas yang jaga di ruas Jalan Ikhlas (bawah pasar burung). Setelah tidak ada petugas, angkot lebih memilih lurus menuju area shooping tanpa berbelok ke terminal,” jelasnya.

Ia mengakui, sopir angkot merasa keberatan masuk ke terminal, karena sepi penumpang. Mereka lebih memilih langsung ke area shooping, karena dekat dengan Pasar Rejowinangun yang banyak penumpang. “Sejauh ini kami juga belum menarik retribusi ke sopir, karena keadaan ini. Meskipun sebenarnya ada sanksi untuk para sopir, karena sudah ada peraturannya,’’ paparnya.

Ketua Organda Kota Magelang Sriyanto mengaku, pihaknya sudah mengirimkan surat kepada para pemilik angkot agar para kru kendaraan dapat masuk ke Terminal Magersari. Surat ini berdasarkan imbauan dari Dishub terkait tidak masuknya angkot ke terminal tersebut.

“Tapi, nyatanya tetap sopir angkot tak mau masuk ke terminal. Alasannya, lokasi tidak strategis, tidak ada penumpang, dan jalan pintu masuk kurang landai. Kami sebagai organisasi tidak bisa berbuat banyak kalau kemauan mereka seperti itu,” tandasnya.

Terminal Magersari dapat menampung 15 kendaraan dan melayani enam jalur dari 13 jalur yang ada di Kota Magelang. Yaitu Jalur 3, 10, 2, 12, 8 dan angkutan perbatasan Magelang-Borobudur dan Magelang-Salaman. (dem/din/fn)