Arena permainan anak-anak di Kampung Tidar Sari hanya memanfaatkan jalan kampung. Menyiasati sempitnya lahan di wilayah perkotaan. Sehari-hari, anak-anak seusia siswa TK memainkan berbagai permainan tradisional.

FRIETQI SURYAWAN, Magelang

HARI-HARI ini Rio, Ana, maupun teman sebayanya tak lagi kesulitan mencari tempat bermain. Bocah-bocah seusia siswa taman kanak-kanak (TK) itu kini sudah memiliki tempat bermain favorit. Tapi, jangan membayangkan tempat bermain bocah RT 02 RW 11 Kampung Tidar Sari, Kelurahan Tidar Selatan, Kota Magelang, itu berada di ruang terbuka hijau atau fasilitas publik lain khas perkotaan. Lalu di mana? Hanya di jalan kampung.

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Ya, jalan kampung di Kampung Tidar Sari disulap menjadi arena bermain. Jalan aspal dengan lebar sekitar 2,5 meter itu dicat. Dengan berbagai warna. Menjadi arena berbagai jenis permainan tradisional. Sebut saja ludo, sunda manda, ular tangga, hingga lapangan sepakbola mini.

”Bisa bermain ular tangga dan sepakbola sekarang,” ucap Rio semringah.
Bahkan, beberapa bocah kecil yang lagi senang-senangnya dengan dunia mainan itu juga bisa bermain beberapa permainan tradisional lainnya. Misalnya, egrang dan dakon. Semua serbatradisional. Jauh dari gawai.

Agung Prabu, seorang tokoh masyarakat Kampung Tidar Sari, mengatakan, menyulap jalan kampung merupakan ide beberapa tokoh masyarakat. Tujuannya untuk mendekatkan anak-anak dengan berbagai permainan tradisional. Sebab, banyak manfaat yang diperoleh dari permainan tradisional. Misalnya, gotong royong, kebersamaan, dan hiburan.

”Juga menyehatkan. Karena dolanan tradisional menggerakan banyak anggota tubuh,” tuturnya.

Ide itu sekaligus untuk menjauhkan anak-anak dari dampak negatif gadget. Yang paling mencolok adalah individualis. Anak-anak bakal cuek dengan kondisi di sekitarnya saat gawai berada dalam genggamannya.

”Apalagi, hampir setiap orang memiliki gadget. Akibatnya, anak dipastikan ikut menggunakan telepon pintar tersebut yang terkadang tanpa bisa dikontrol,” tambah pria 40 tahun itu.

Dari itu, pria yang dikenal sebagai seniman ini menuturkan, ide untuk menggambar permainan tradisional di jalan kampung mendapat respons positif. Termasuk pengurus rukun tetangga (RT). Alhasil, saat realisasi, warga bergotong-royong menggambar aspal dengan dicat warna-warni.

”Idenya sih sederhana. Bagaimana caranya mengisi waktu liburan sekolah anak-anak dengan bermain di luar bersama-sama. Orang tua pun ikut bermain sebagai nostalgia,” tuturnya.

Ketua RT 01 Kampung Tidar Sari Prasetyo Gunawan melihat, warganya antusias dengan ide menggambar jalan kampung. Meski, arena permainan itu berada di atas jalan beraspal. Sempit pula. Tidak seperti arena permainan anak-anak pada umumnya. Yang mayoritas berada di tanah lapang.

”Tapi, karena di daerah perkotaan, lapangan sempit dan jalanan diaspal, maka idenya digambar di aspal dengan cat warna-warni agar lebih menarik,” katanya.

Melihat antusias anak-anak dan warga, pria yang akrab disapa Wawan ini berencana menambah gambar permainan tradisional lainnya agar lebih semarak. Termasuk menghadirkan dolanan anak lainnya, sehingga anak-anak makin aktif bermain bersama di luar ruangan.

”Ide kami ini juga didukung penuh ibu Nur Lamiah (lurah Tidar Selatan). Bahkan, akan terus mengangkatnya, sehingga lebih dikenal luas masyarakat sebagai Kampung Dolanan Anak,” tandasnya.

Saat ini, mereka sambil berharap ada dukungan dari pihak ketiga demi kemajuan kampung tersebut. Bisa berbentuk bantuan permainan atau sarana yang bisa mendukung kegiatan bermain. (zam/fn)