Co Working Space menjadi tren baru tempat bekerja di Jogja. Tapi belum banyak Co Working Space yang menyediakan lokasi yang nyaman bagi penyandang disabilitas. Diskominfo Co Working Space (DCS) mewujudkannya.
SEVTIA EKA NOVARITA, Jogja

Panas dan padatnya jalan Brigjen Katamso Gondomanan Jogja seketika hilang ketika masuk ke dalam Diskominfo Co Working Space (DCS). Berada di komplek kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIJ, DCS menyediakan fasilitas kepada masyarakat dan komunitas di DIJ untuk kembangkan industri kreatif digital. Disediakan area khusus bagi siapa saja yang ingin menyalurkan ide serta gagasannya.

Tidak seperti Co Working Space yang ada di Jogja pada umumnya, Co Working Space (DCS) milik DIskominfo dirancang khusus ramah untuk difabel. Melibatkan komunitas difabel dalam pengerjaannya, membuat Diskominfo berbenah dalam hal penataan ruangan.

Kepala Bidang Aplikasi Informatika (Aptik) Diskominfo DIJ, Bayu Februarino Putro mengaku para difabel terlibat dalam pengerjaan Co Working Space sejak perencanaan gambar sampai perencanaan program. “Pemilihan fasilitas yang ramah difabel sangat diperhatikan,” ungkapnya kepada Radar Jogja Selasa (8/1).

Mulai dari meja, akses masuk ke dalam ruangan, toilet, hingga pemilihan warna ruangan sesuai dengan kebutuhan difabel. “Diberikan warna yang tidak mengganggu para difabel saat mengerjakan sesuatu, dan itu penting,” jelas Bayu.

Pemberian fasilitas ramah difabel, masih belum sepenuhnya terpenuhi. Salah satunya adalah kursi ramah difabel yang masih dalam proses pengerjaan. Bersama difabel yang ada di Solo, Bayu mencoba merancang kursi dengan fentilasi yang nyaman bagi para difabel.

Ketekunan para difabel dalam hal mengerjakan sesuatu adalah suatu kelebihan. “Mereka bisa melakukan seharian saat sedang asyik mengerjakan sesuatu,” tuturnya.

Ada empat ruangan yang disediakan dan bisa diakses oleh masyarakat. Satu classroom yang bisa digunakan untuk 15 sampai 20 orang. Satu ruangan untuk bekerja yang dilengkapi dengan 7 komputer dengan dua diantaranya khusus untuk difabel.

Satu ruangan yang berada di luar ruangan turut disiapkan. Dilengkapi dengan meja dan kursi, membuat ruangan menjadi nyaman untuk melakukan diskusi dan bekerja. Ruangan ini juga bisa diguanakan untuk performance space bagi komunitas yang ingin menampilkan karyanya.

Ada pula studio yang digunakan untuk belajar animasi, membuat film serta merancang desain. Hanya saja, akses keamanan yang masih dalam proses pengerjaan membuat studi tersebut belum dibuka untuk umum. “Ukuran studio kecil, bisa belajar mengenai musik juga di studio tersebut,” tambah Bayu.

Telah berjalan selama empat bulan, masyarakat yang ingin mengakses hanya perlu mendaftar secara langsung untuk mengakses ruang classroom dan komputer. “Pendaftaran online akan segera dibuka untuk mempermudah masyarakat dalam mendapatkan ruang yang diperlukan,” katanya.

Bayu menambahkan Jogja yang didominasi oleh anak muda sebagai mahasiswa dan startup, DCS memberikan layanan wifi gratis bagi siapa saja. Hanya saja, semua fasilitas yang disediakan hanya bisa dinikmati selama jam kerja kantor. Itu dilakukan untuk menghargai adanya Co Working Space lainnya yang ada di Jogja. (pra/fn)