SATU lagi film yang terasa sangat antropologi-psikologi hadir di 2018 lalu. Tentu tak terkejut jika tahu kalau ¬†film ini ditulis dan disutradarai oleh Debra Granik (Winter’s Bone). Kali ini kisahnya tentang seorang ayah veteran dengan gangguan stres pascatrauma yang memilih menarik diri dari masyarakat umum dan tinggal menyendiri di tengah hutan bersama anak perempuan semata wayangnya.

Cara hidup mereka soliter dan bertahan diri dengan peralatan seadanya. Dalam satu insiden kecil nan sepele, keberadaan mereka di tengah hutan, yang dianggap ilegal dari kacamata hukum positif, ketahuan oleh petugas berwenang setempat. Kemudian mereka dibawa ke dinas sosial. Kejadian tersebut membuat ayah dan anak perempuannya ini menghadapi konsekuensi yang menempatkan masing-masing pada persimpangan jalan dalam mendefinisikan ulang arah hidup.

Dengan dialognya yang irit, eksposisi plot tampak samar-samar pada awalnya. Hal ini menguntungkan guna menghadirkan nuansa yang realistis. Alhasil, suatu potret sosial yang dramatis terbangun manis.

Isu sosial yang diangkat ternyata tak semerta-merta menyinggung kemapanan sistem administrasi yang positivistik, melainkan juga merambah ke ranah personal. Persoalan hubungan antara ayah dan anak yang ditampilkan dlm film ini sangatlah terasa universal. Cerdasnya lagi, persoalan ini tersuguhkan cukup emosional dan kontemplatif dalam satu babak klimaks yang subtil.

Tampaknya tidak banyak sutradara yang observasi isu sosialnya begitu saksama seperti yang ditunjukkan oleh Debra Granik lewat film ini. Meskipun boleh dibilang aura film ini terasa berskala minor, lebih-lebih ditilik dari ledakan plot dan konsep pengadegannya, film ini betul-betul bernas. Ia sukses gemilang menghadirkan secara memikat satu potret sosial yang memantik diskusi multidimensional. (ila)

*Penulis adalah penggemar film dalam negeri dan penikmat The Chemical Brothers yang bermukim di Jogja Utara.