JOGJA – Wilayah DIJ sedang terjadi fenomena gerak semu matahari. Kondisi itu membuat kondisi siang hari menjadi lebih panjang disbanding malam hari. Di wilayah DIJ sendiri, karena gerak matahari semu, lamanya waktu matahari bersinar bertambah sekitar 20 menit dalam seharinya.

Dikutip dari berbagai literatur ilmu astronomi, gerak semu matahari merupakan gerak matahari yang seolah-olah bergerak dari lintang utara ekuator ke lintang selatan ekuator. Gerak tersebut menghasilkan pergeseran semu letak terbit atau terbenamnya matahari setiap harinya. Situasi seperti itu seolah membuat matahari terbit lebih awal dan terbenam lebih lambat.

Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Indah Retno Wulan menjelaskan fenomena gerak semu matahari biasa terjadi setiap tahunnya. Keberadaan matahari di wilayah bumi bagian selatan, juga berpengaruh terhadap suhu udara yang menjadi lebih panas yaitu 32 sampai 34 derajat celcius.

“Ini masih dalam batas wajar, karena siang yang panjang hanya berdurasi kurang lebih 10 sampai 20 menit,” jelasnya kepada Radar Jogja saat ditemui di Kantor BMKG Jogjakarta Minggu (13/1).

Indah menambahkan, memasuki musim penghujan, dan waktu siang yang lebih panjang serta angin yang bertiup dari Benua Asia ke Benua Australia akan membuat penguapan menjadi lebih tinggi. Kondisi itu yang menyebabkan tingkat suhu udara menjadi lebih tinggi dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Menurut dia temperatur dipengaruhi derajat dan intensitas radiasi matahari ke permukaan bumi. Selain itu faktor kelembaban juga mempengaruhi temperatur. “Semakin rendah kelembaban, maka temperatur akan terasa lebih panas,” jelasnya.

Udara panas juga akan dirasakan pada malam hari yang cenderung mendung. Suhu udara akan lebih tinggi dibandingkan dengan malam hari dengan cuaca berawan. Itu disebabkan oleh panas yang terakumulasi oleh matahari masih terjebak di permukaan bumi dan tidak bisa dilepaskan ke angkasa. “Selama tidak melebihi 34 derajat celcius, itu masih normal,” kata Indah.

Indah menambahkan, penguapan tinggi karena fenomena gerak matahari semu akan menyebabkan cuaca ekstrim. Indah menyebut hujan lebat disertai dengan angin kencang dan petir. Cuaca seperti itu diperkirakan akan terus terjadi sampai akhir Januari 2019 di seluruh pulau Jawa.

Meskipun curah hujan pada Januari ini mencapai puncaknya, tambah Indah, hal itu masih dalam batas wajar. Indah mengimbau bagi masyarakat untuk selalu waspada dan berhati-hati saat berada di luar ruangan dan tengah terjadi hujan lebat. (cr7/pra/fn)