SLEMAN – Gunung Merapi mengalami enam kali guguran lava pijar dalam rentang waktu pukul 19.50 hingga 21.21 pada Minggu malam (13/1). Jarak luncurnya antara 200-600 meter dengan durasi 35-86 detik. Status Merapi masih waspada sejak dinaikkan 21 Mei 2018.

Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIJ Agus Budi Santoso mengatakan, kondisi Merapi masih stabil dan cenderung belum ada peningkatan yang signifikan. “Hanya masyarakat harus tetap berhati-hati,” kata Agus saat dihubungi Senin (14/1).

Hingga kemarin (Senin, 14/1) luncuran lava pijar Merapi paling jauh terjadi pada Sabtu (12/1) pukul 01.45 dini hari. Dengan jarak luncur sejauh 1,7 kilometer dan berdurasi 122 detik. Luncuran lava pijar itu mengarah ke tenggara atau hulu Kali Gendol.
Saat ini, volume kubah lava Merapi per tanggal 10 Januari lalu mencapai 439.000 meter kubik. Dengan laju pertumbuhan rata-rata 3.400 meter kubik per hari. “Laju pertumbuhan itu masih tergolong rendah,” ungkap Agus.

Terpisah, Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan menjelaskan, adanya fenomena guguran lava pijar merupakan hal yang lumrah terjadi. Apalagi Merapi memang menyandang status sebagai gunung api teraktif di dunia. “Sehingga guguran lava ini wajar,” ujarnya.

Hal ini, kata Makwan, tidak mengubah skema mitigasi bencana yang telah disiapkan dan disosialisasikan ke masyarakat melalui Catur Gatra Ngadepi Bebaya. Adanya guguran lava pijar ini juga memiliki potensi hujan abu vulkanik. Dari BPBD Sleman telah menyiapkan sejumlah 600 ribu masker.

“Sebagian sudah didistribusikan ke desa kawasan rawan bencana (KRB) 3, dan puskesmas di dekat desa KRB 3. Sebagian lagi masih terdapat di gudang BPBD dan Dinas Kesehatan,” ungkapnya.