Pohon petai cina dikenal banyak khasiat untuk kesehatan. Rasa penasaran mendorong sekelompok mahasiswa UNY meneliti daunnya. Ternyata daun petai cina bisa diolah sebagai bahan utama sabun herbal.

SEVTIA EKA NOVARITA, Sleman

DI Gunungkidul daun petai cina lebih banyak untuk pakan ternak. Tak banyak yang tahu jika daun tanaman yang dikenal dengan sebutan lamtoro sebenarnya kaya manfaat dan khasiat. Berbekal informasi itulah Nurhayati Wahyu Kurniasari dan sejawatnya di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berusaha mencari tahu manfaat lamptoro. Dengan menelusuri berbagai literatur.

Setelah mendapatkan informasi yang cukup mulailah dia melakukan uji laboratorium. Bersama rekan-rekannya, Fatwaning Raras Pawestri, Merita Dewi Kadarwati, Novita permatasari, dan Aprilia Ristianasari. Semua memiliki keresahan yang sama. Terhadap produk-produk kecantikan. Terutama produk impor. Yang tak memenuhi syarat kesehatan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Rasa penasaran terhadap daun lamporo berpadu dengan keresahan akan produk kecantikan. Maka jadilah observasi itu. Mereka mencoba membuat produk herbal berbahan daun lamtoro. Hasilnya: sabun. Tepatnya sabun kecantikan. Tanpa campuran bahan kimia. Sehingga aman bagi kulit. “Produk kecantikan dengan kandungan kimia banyak efek sampingnya. Salah satunya ketergantungan terhadap produk itu,” ungkap Nurhayati Senin (14/1).

Nurhayati dan kelompoknya hanya menambahkan natrium hidroksida pada sabun herbal itu. Juga sedikit air suling, minyak kelapa dan zaitun, essential oil, dan pewarna makanan. “Supaya warnanya menarik,” ucapnya.

Proses pembuatannya pun cukup mudah. Mula-mula daun petai cina direbus dalam air mendidih untuk diambil ekstraknya. Di bagian lain, natrium hidroksida, air, dan minyak dicampur dengan takaran yang telah ditentukan. Lalu dipanaskan. Kemudian ekstrak petai cina dituangkan dalam campuran natrium hidroksida, air, dan minyak. Selanjutnya ditambah essential oil sebagai aroma sabun. Serta pewarna makanan.

Campuran seluruh bahan yang telah mendidih kemudian dituangkan ke dalam cetakan. Lalu dibiarkan mengeras selama kurang lebih lima hari.

Hasilnya pun tak kalah dengan produk kecantikan buatan pabrik. Pun demikian fungsinya. Untuk merawat kecantikan kulit. Sabun herbal itu diyakini memiliki khasiat untuk menghaluskan dan membuat kulit tidak kusam. “Saat ini kami memang belum menjualnya ke pasaran. Tapi supaya tampak menarik sabun herbal kami packing rapi,” ujarnya.

Meski belum ada rencana memasarkan produk, sabun herbal itu akan dipatenkan. Setelah lebih dulu disempurnakan dan diteliti oleh dosen ahli. (yog/fn)