SLEMAN – Pesta demokrasi tahun 2019 ini akan menjadi pemilihan umum (pemilu) yang berbeda dari pemilu 2014. Ya, kali ini masyarakat akan mencoblos lima surat suara berbeda.

Rinciannya, satu orang akan memilih calon presiden dan wakilnya, DPR, DPD, legislatif dan partai politik. Komisi Pemilihan Umum (KPU) terus berupaya melakukan sosialisasi ke masyarakat.

Namun, personel KPU yang terbatas membuat sosialisasi terhambat. KPU pun berinisiatif merekrut Relawan Demokrasi. Relawan ini akan bekerja selama tiga bulan ke depan.

Ketua KPU Sleman, Trapsi Haryadi menjelaskan, hingga tahap wawancara, ada 176 orang yang mengikuti seleksi. Berasal dari 17 kecamatan di Sleman.
“Kalau dilihat, respons masyarakat sangat baik, dari 17 kecamatan di Sleman, semuanya ada perwakilan yang mendaftar,” ujar Trapsi (16/1).

Dikatakan, ada sebelas basis utama. Yaitu basis keluarga, kelompok, pemilih muda, pemilih pemula, disabilitas, warganet, dan sebagainya. “Dari 176 orang itu dipilih lima orang sesuai basisnya. Jadi ada total 55 Relawan Demokrasi,” ujarnya.

Mereka yang terpilih akan diberi pelatihan. Hal itu mengingat mereka yang mendaftar berasal dari berbagai golongan. “Itu dasar, nanti kalau di lapangan terkait cara sosialisasi, fleksibel saja,” kata Trapsi.

Adanya Relawan Demokrasi, menjadi angin segar meningkatnya partisipasi pemilu. Terutama bagi mereka yang termasuk pemilih pemula. “Seperti di sekolah, nantinya Relawan Demokrasi masuk ke sana,” jelasnya.

Salah seorang peserta seleksi, Asri Novitasari, 24, dari Gamping memutuskan mendaftar karena ajakan temannya. ‘’Ingin cari pengalaman,” ujar Novi.

Novi masih menempuh studi di salah satu perguruan tinggi di DIJ memutuskan untuk memilih basis keluarga dan pemilih pemula. “Kalau pemula kan masih mudah dikasih tahu. Masih gampang untuk berbaur karena seumuran,” ungkapnya. (har/iwa/fn)