SLEMAN- Pengalihan arus lalu lintas di Simpang Empat Kentungan berlaku efektif mulai Jumat (18/1). Namun, larangan melintas bagi truk dan bus besar di ruas Ring Road Utara belum efektif. Truk dan bus ukuran jumbo yang terlanjur masuk ruas jalan tersebut pun dihalau untuk putar balik oleh petugas proyek underpass.

Rajiyo, 44, sopir truk tronton yang melintas siang kemarin mengaku tak tahu adanya larangan itu. “Ya mohon maklum. Saya bukan orang Jogja. Saya tidak lihat rambu-rambu larangannya,” ungkapnya saat terjebak macet di sisi barat Simpang Empat Kentungan. Hal senada diungkapkan Hartantiyo, driver taksi online. Dia mengaku tak melihat adanya rambu pengalihan arus lalu lintas ke arah Kentungan. “Seharusnya ada petugas yang jaga, setidaknya di Simpang Monjali atau Jombor. Untuk menghalau truk dan bus besar supaya tidak melaju ke Kentungan,” sesalnya karena terjebak macet di U Turn alternatif dekat kawasan Plemburan, Ngaglik. “Truk putar balik itu bikin arus tambah krodit,” lanjutnya.

Penutupan jalur cepat di Simpang Empat Kentungan sebagai konsekuensi dimulainya proyek underpass. Pelaksana proyek hanya memberikan akses jalan di jalur lambat selebar kurang lebih tiga meter di kawasan itu. Bagi kendaraan dari arah timur maupun barat.

Namun, hingga kemarin belum semua jalan jalur ekstensi tersebut dikeraskan. Sebagian masih berupa kerikil dan batuan, sehingga menyebabkan beberapa kendaraan tergelincir. Beberapa lubang jalan juga belum ditambal.

Soal truk dan bus besar mengarah ke kawasan Kentungan, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jembatan Kretek 2 dan Underpass Kentungan Cs Wilayah DIJ, Ditjen Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Muhammad Sidiq Hidayat mengklaim telah memasang rambu peringatan di lebih dari 16 persimpangan jalan yang menjadi akses ke arah Kentungan. “Kalau jumlah total (rambu, Red) saya tidak hafal,” dalihnya.

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Menurutnya, ukuran rambu-rambu peringatan sudah cukup besar dan terlihat dari jarak tertentu. “Kalau ada kendaraan besar yang menuju Simpang Kentungan ya kami kembalikan ke orangnya (sopir),” ucapnya.

Adapun proyek underpass dimulai di sisi barat simpangan. Disusul sisi timur. Pengerjaan di sisi barat ditargetkan selesai dalam tempo tiga bulan ke depan. Pun demikian target pengerjaan sisi timur.

Kasi Manajemen Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ Bagas Senoadjie menyatakan, pemasangan rambu dan papan informasi menjadi tanggung jawab satker pelaksana jalan nasional (PJN). Bagas mengaku telah mengusulkan penambahan rambu informasi. “Saya pernah menyampaikan kalau rambu-rambu yang dipasang kurang besar,” bebernya.

Bagas menduga, adanya penumpukan kendaraan di sisi timur dan barat Simpang Empat Kentungan sebagai akibat ukuran rambu yang dipasang sejak wilayah Prambanan dan Gamping kurang besar.

“Kalau ukuran rambunya besar tentu masyarakat akan membaca dan informasi tersampaikan. Sehingga tidak ada lagi penumpukan kendaraan di Kentungan,” katanya.

TERLALU MUNGIL: Rambu penunjuk jalan portable di dekat traffic Barek. Rambu tersebut sebagai peringatan bagi pengendara kendaraan bermotor untuk menghindari Simpang Empat Kentungan. (IWA IKHWANUDIN/RADAR JOGJA)

Bagas juga menyoroti masalah ukuran font tulisan pada rambu-rambu yang dipasang. Jika tulisan pada rambu mudah terbaca oleh pengendara, menurut dia, tidak akan ada lagi kendaraan besar yang mengarah ke Simpang Empat Kentungan. “Di Jalan Solo itu rata-rata kecepatan kendaraan 60 km/jam ke atas. Kalau rambunya kecil ya tidak terlihat,” katanya.

Lebih dari itu Bagas meminta satker PJN memasang lampu di sekitar proyek. Dan menambah papan informasi. Sebab yang masuk ke DIJ bukan hanya kendaraan orang Jogjakarta. “Banyak juga yang dari luar daerah,” bebernya.

Sementara itu, KBO Satlantas Polres Sleman Iptu Riki Heriyanto menyatakan, rekayasa lalu lintas terkait penutupan jalur cepat Simpang Empat Kentungan dimulai sejak Jumat (18/1) pagi. “Semua kendaraan dari arah timur kami alihkan ke jalur lambat,” ujarnya.

Alur lampu pengatur lalu lintas pun direkayasa sedemikian rupa. Diubah alur perputarannya. Pertama dari sisi timur. Lalu barat. Lalu sebaliknya, dari barat ke timur. Kemudian sisi selatan ke utara dan sebaliknya. “Kami berupaya agar lalu lintas tetap bisa berjalan dengan baik,” jelasnya.

Demi kelancaran rekayasa lalu lintas, Riki mengaku menyiagakan anggotanya selama 24 jam nonstop. “Lihat situasi juga. Pos Kentungan ini hanya sampai pukul 22.00. Nanti dibantu petugas dari pos Jombor,” ujarnya. (har/yog/fn)