SELAIN memperjualbelikan secara ilegal, memelihara satwa langka dilindungi tanpa izin termasuk tindakan melanggar hukum. Ketentuan ini sebagaimana dijelaskan dalam UU No 5 Tahun 1990. Pelaku terancam hukuman hingga enam tahun penjara. Kendati demikian, Kepala BKSDA Jogjakarta Junita Parjanti menilai hukuman yang dijatuhkan hakim kepada para pelanggar belum bisa memberikan efek jera. Sebab, mayoritas hukuman hanya berupa penjara selama tiga bulan.

Bicara soal regulasi hukum, masyarakat sebenarnya bukan tidak boleh memelihara satwa langka. Asal memiliki izin. Dengan catatan, satwa tersebut bukan hasil menangkap di hutan. Tapi hasil penangkaran dan merupakan kelahiran dari generasi kedua.

Pengurusan izinnya pun cukup sederhana. Bisa diurus di kantor BKSDA atau kepolisian.

Syaratnya, calon pemilik satwa harus mengajukan surat permohonan. Disertai keterangan identitas pemohon, izin dari camat, dokumen legalitas satwa, dan proposal.

“Jika telah mendapat izin, pemilik diperbolehkan melakukan penangkaran dengan tujuan melestarikan,” jelas Junita.

Namun ada beberapa pengecualian. Bagi jenis satwa tertentu yang bukan merupakan kewenangan BKSDA dalam pengurusan izinnya. Misalnya: anoa, babi rusa, badak, komodo, cenderawasih, elang Jawa, lutung Mentawai, orang utan, owa Jawa, dan bunga raflesia.

Untuk hewan-hewan tersebut izin penangkarannya menjadi kewenangan direktur jenderal konservasi sumber daya alam dan ekosistem.

Menanggapi persoalan tersebut, Ketua Yayasan Sioux Ular Indonesia Aji Rahmat Purwanto menyatakan dukungannya kepada pemerintah. Dalam upaya perlindungan satwa liar. Dia mendorong aparat hokum menjatuhkan hukuman maksimal bagi pelaku transaksi satwa langka dilindungi. “Pelaku harus ditindak tegas,” pintanya.

Selain memberikan efek jera bagi pelaku, Aji mendorong pemerintah lebih masif dalam sosialisasi. Untuk memberikan pemahaman kepda masyarakat akan pentingnya melindungi satwa langka liar yang jumlahnya kian menipis. “Karena saat ini masih banyak orang yang tak tahu hewan apa saja yang dilindungi dan dilarang diperjualbelikan,” beber Aji.

“Bisa saja yang membeli (satwa langka, Red) memang tidak tahu. Mereka beli karena melihat hewannya bagus,” tambahnya.

Sudah sejak lama Sioux turut membantu pemerintah mengedukasi masyarakat. Langkah awal melarang jual beli satwa dilindungi di lingkungan komunitasnya. (cr5/cr7/yog/fn)