Semakin marak kasus jual beli satwa ilegal, kian banyak pula ‘koleksi’ Wildlife Rescue Centre di Pengasih, Kulonprogo. Tak kurang 157 hewan langka diamankan di pusat rehabilitasi satwa itu saat ini. Mayoritas satwa sitaan aparat dari kepemilikan ilegal.

HENDRI UTOMO, Kulonprogo

SETIAP tahun selalu ada satwa baru dititipkan di Wildlife Recsue Centre (WRC) Jogjakarta. Jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun. Seiring makin gencarnya upaya penyelamatan satwa langka oleh petugas Balai Konsrvasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jogjakarta. Juga santernya tindakan hukum kepolisian terhadap pelaku transaksi satwa liar langka dilindungi.

“Dulu mungkin tak banyak pemelihara atau penjual satwa dilindungi yang ketahuan. Sekarang banyak kasus perdagangan dan penyelundupan hewan terungkap. Otomatis jumlah satwa dilindungi yang masuk ke sini semakin banyak,” ungkap drh Warih Pulung Nugrahani dari Divisi Kesahatan Satwa, WRC Jogjakarta, kemarin (20/1).

Adapun 157 satwa di WRC merupakan jumlah akumulasi. Dari tahun ke tahun. Terdiri atas 68 ekor burung. Berjenis elang, hantu, nuri, dan kakak tua. Ada pula 37 ekor mamalia. Seperti beruang madu, beruk, siamang, owa, orang utan, monyet ekor panjang, tupai tiga warna, dan rusa sambar. Sisanya sebanyak 52 ekor reptil. Berupa kura-kura dan buaya. Sebagian satwa lain telah dilepasliarkan ke habitat aslinya. “Satwa akan kami lepasliarkan setelah direhabilitasi dan dinilai mampu bertahan hidup di alam liar,” jelasnya.

Selain hasil sitaan atas kepemilikan ilegal, sebagian besar satwa di WRC adalah barang bukti kejahatan jual beli hewan langka dilindungi yang tertungkap aparat hukum. Sebagian lainnya milik perseorangan yang diserahkan sendiri oleh pemiliknya. Setelah mendapat sosialiasi dan edukasi dari BKSDA.

Saat dibawa ke WRC, jelas Warih, kondisi satwa rata-rata sehat. Normal secara fisik dan tidak cacat. Namun kebanyakan mengalami gangguan sistem pencernaan. Ini sebagai dampak pemberian pakan yang tidak pas. “Satwa yang seharusnya makan sayur dan buah-buahan, namun diberi nasi. Karena lama dipelihara manusia tingkah laku satwa juga berubah,” bebernya.

“Monyet ekor panjang, misalnya. Karena sering dilatih menjadi topeng monyet perilakunya ya seperti itu,” sambung perempuan berhijab itu. Warih melihat tukang topeng monyet kerap memperlakukan satwa piarannya secara tidak wajar. Tidak beretika. Sehingga kondisi psikologis dan perilaku hewan itu berubah.
“Monyet tidak boleh dirantai. Burung sebaiknya jangan dikurung, dibiarkan bebas terbang. Intinya, hewan itu perlu dilindungi. Diberi kasih sayang dan ditolong. Mereka butuh kebebasan di alam,” tegasnya.

Nah, tugas pokok WRC mengembalikan kodisi fisik sekaligus psikologi hewan tersebut. Naluri satwa harus dipulihkan seperti semula. Supaya saat dilepasliarkan ke habitat aslinya bisa bertahan hidup.

Warih tak menampik rumitnya mengurai jaringan perdagangan satwa liar langka. Harus dipecahkan dulu masalahnya. Dari hulu ke hilir. Dan melibatkan banyak pihak. Permasalahan di hulu, menurut Warih, satwa liar ditangkap dan dipelihara karena dianggap sebagai tradisi atau kebanggaan. Pemecahan masalahnya, mau tidak mau harus dengan edukasi dan penyuluhan kepada tetua adat dan masyarakat.

“Kebiasan itu bisa diubah atau tidak. Jika ternyata bisa, hukum adat bisa lebih maksimal meminimalisasinya,” ungkapnya.
Untuk mencegah perdagangannya, pemerintah harus mengencangkan regulasi hukum. Semua pihak harus dilibatkan. Warih menegaskan, permasalahan satwa liar dilindungi bukan hanya menjadi tanggung jawab BKSDA dan kepolisan. Lebih dari itu perlu kesadaran masyarakat secara bersama-sama.

WRC sendiri sering melakukan upaya edukasi kepada masyarakat. Salah satunya dengan membuka program pendidikan konservasi. Untuk memfasilitasi siapa saja yang berkunjung di WRC. “Kampanye perlindungan satwa juga kami lakukan melalui media sosial,” ujarnya.

Masyarakat perlu tahu aturan perlindungan satwa. Ketika masyarakat paham, menurut Warih, kesadaran akan tumbuh. Pemilik satwa tak lagi menyiksa piaraannya. Atau menyerahkannya ke WRC. (yog/fn)