JOGJA – Dampak kehadiran taksi online benar-benar dirasakan oleh pengemudi taksi argometer. Pendapatannya turun drastis. Bahkan meski sudah tiap hari beroperasi, maksimal rata-rata uang yang bisa dibawa pulang sekitar Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu.

“Padahal itu sudah tiap hari jalan, 10-15 hari jalan istirahat sehari. Belum kalau dipotong uang makan dan bensin,” ujar salah seorang pengemudi taksi Pataga Jogja Waluyo dalam diskusi Koperasi Serba Usaha (KSU) Pataga di Jogja senin (12/1).

Waluyo mengakui, sejak kehadiran taksi online pada 2017 lalu, yang disebutnya seperti tsunami. Menghantam semua orang. Waluyo mengisahkan dulunya sebelum kehadiran taksi online, setoran wajib sebesar Rp 280 ribu dan tabungan pengemudi Rp 20 ribu mudah baginya. “Dulu minimal sehari bisa dapat Rp 250 ribu, itu pun sehari narik sehari istirahat,” tambah pria yang sudah hampir 12 tahun menjadi pengemudi taksi Pataga itu.

Kondisi itu diamini oleh para pengurus KSU Pataga. Bendahara sekaligus HRD KSU Pataga Rahmadani Iman mengaku dulunya dengan 59 armada taksi yang dimiliki rata-rata per bulan bisa memperoleh pendapatan Rp hingga Rp 420 juta. Tapi saat ini laba yang diperoleh hanya kurang dari Rp 100 juta dengan 39 unit taksi yang beroperasi. “Dengan penapatan yang turun tentu tidak bisa memberikan pelayanan yang optimal,” tuturnya.

Ketua Pengurus KSU Pataga Jogja Sujarwo Chandra menambahkan sejak mulai beroperasi pada 1990 dan mulai mendaftarkan diri sebagai taksi berargometer pada 1991, Pataga sudah mengalami berbagai tantangan. Chandra menyebut mulai dari krisis moneter 1998 maupun bencana gempa bumi 2006. Tapi sejak 2016-2017 dengan masuknya taksi online, kondisi taksi argometer mulai goyah. “Koperasi banyak mengalami kerugian, sehingga banyak menjual asset,” tuturnya.

Kondisi itulah yang mendorong KSU Pataga untuk menjalin kemitraan dengan taksi Blue Bird. Chandra mengisahkan awalnya pada Mei 2018 ada undangan dari DPD Organda DIJ terkait presentasi kemitraan dari Blue Bird. Dari pertemuan tersebut dan hasil komunikasi dengan pengurus serta pengemudi banyak yang tertarik. “Seluruhnya sepakat karena perlu suntikan dukungan operasional dari Blue Bird,” jelasnya.

Dengan kemitraan dalam bentuk “Kawan Blue Bird”, Sekretaris KSU Pataga Hadi Hendro mengatakan bukan merupakan akuisisi. Tapi murni merupakan bentuk CSR dari Blue Bird. Izin taksi argometer, seperti yang diatur dalam SK Gubernur DIJ nomor 86 tahun 2014 yang membatasi jumlah taksi di DIJ 1.050 unit, yang 59 unit diantaranya milik Pataga. “Izin, unit dan armada taksi masih milik Pataga,” tegasnya.

Menurut dia dengan kemitraan tersebut juga untuk mengembalikan kejayaan taksi argometer. Termasuk dengan mematuhi aturan dalam SK Gubernur, yaitu   tarif buka pintu sebesar Rp6.650 dan tarif per kilometer sebesar Rp 3.900. “Ini merupakan ikhtiar kami supaya taksi berargometer tidak berguguran dan tetap sesuai aturan,” jelasnya. (cr9/pra/ong)