GUNUNGKIDUL – Masinah dalam beberapa hari terakhir hanya bisa terbaring lemas. Kondisinya lunglai. Tangan kanannya melepuh. Warnanya menghitam. Bahkan, warga RT 01 RW 07 Pedukuhan Bulurejo, Desa Monggol, Kecamatan Saptosari, ini sempat muntah darah. Saat menjalani perawatan di RSUD Wonosari.

Itulah kondisi perempuan 60 tahun yang sehari-hari berprofesi sebagai petani tersebut setelah digigit ular.

”Kejadiannya (digigit ular, Red) Sabtu (12/1) sore lalu,” jelas tutur Masinah dengan terbata-bata Senin (21/1).

Sore itu, Masinah berada di sawah. Mencari rumput untuk pakan ternak. Tak disangka, seekor ular mematuknya. Pada bagian telapak tangan kanannya. Masinah spontan berteriak histeris. Merasa kesakitan.

”Beberapa orang di sekitar langsung mendekat. Berusaha memberikan pertolongan,” ucapnya.

Guna mendapatkan penanganan medis, Masinah langsung dibawa ke RSUD Wonosari. Saking lemasnya, Masinah harus duduk di kursi roda ketika diantar ke rumah sakit pelat merah itu.

”Ketika di rumah sakit muntah bercampur darah. Dari magrib sampai jam 02.00 dini hari,” tutur Tumirah, anak korban.

Perubahan demi perubahan tangan kanan Masinah terlihat sejak Minggu (13/1). Atau sehari pascainsiden. Saat itu muncul bintik-bintik merah. Di sebagian lengan kanannya. Kondisi tangan kanannya pada hari kedua berubah lagi. Menjadi melepuh. Memasuki hari keempat, tangan kanan yang semula membengkak menjadi kopyor.

”Sekarang bagian tangan dari lengan hingga jari menghitam,” lanjutnya.

Tumirah tak mengetahui persis ular jenis apa yang menggigit ibunya. Namun, dari cir-ciri yang disebutkan identik dengan ular tanah (calloselasma rhodostoma). Ular ini hidup di Asia Tenggara dan Jawa. Dengan nama lokal seperti bandotan bedor, oray lemah, oray gibug, atau ular edor.

”Ular itu sempat menggigit sebanyak tiga kali di sekitar jemari,” tambahnya. (gun/zam/fn)