JOGJA – Dari sekitar 250 kampung di Kota Jogja, 97 kampung diantaranya sudah terbentuk kampung tangguh bencana (KTB). Tapi pembentukan KTB saja tidak cukup. Kemampuan mereka akan dievaluasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja.

Tahun ini sudah direncanakan evaluasi terhadap 10 KTB di Kota Jogja. Yaitu Kampung Iromejan, Ledok Prawirodirjan, Gambiran, Ratmakan, Keparakan Lor, Darakan Timur, Warungboto, Rejowinangun, Ponggalan, dan Jagalan Ledoksari.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Jogja Hari Wahyudi menjelaskan, peninjauan akan dilakukan kepada KTB yang sudah lama dan baru terbentuk. “Peninjauan perlu untuk memastikan kompetensi seluruh KTB yang telah terbentuk masih tetap terjaga,” tuturnya Selasa (22/1).

Lewat peninjauan, BPBD bisa menilai keaktifan KTB dalam menjalankan berbagai program dan kegiatan. Guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat saat terjadi bencana. “Melihat kemampuan KTB melakukan penanganan saat terjadi bencana,” kata mantan Kepala Bagian Umum Pemkot Jogja itu.

Kegiatan ini, tambah Hari, akan meningkatkan KTB terkait langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi bencana. Mengingat setiap Kampung memiliki karakteristik bencana yang berbeda-beda. Hal ini tentu akan mendapatkan penanganan yang berbeda pula.

Menurut dia ada beberapa prosedur kesiapsiagaan yang harus dimiliki KTB. Mulai dari pelaporan kejadian bencana ke aparat terkait hingga penanganan darurat yang melibatkan wilayah. Termasuk untuk pengurusan surat-surat penting yang dimungkinkan hilang saat terjadi bencana.

“Jika tidak dilakukan evaluasi bisa jadi pengurus KTB melupakan kemampuan penanganan bencana,” tuturnya. Kondisi itu, lanjut dia, akan berbahaya jika bencana dating.

Sampai tahun 2018, tercatat 100 KTB yang telah terbentuk di Jogjakarta. Hanya saja, setelah Pemkot Jogja mengeluarkan Peraturan Wali Kota nomor 72 tahun 2018 tentang Pedoman Pembentukan Kepengurusan Kampung, ada beberapa Kampung yang digabung sehingga total KTB berjumlah 97.

Hari menambahkan, ada enam Kampung yang digabung. Yaitu KTB Lobaningratan dan ledok Prawirodirjan digabung menjadi KTB Prawirodirjan, KTB Tejokusuman dan Serangan menjadi KTB Serangan. Serta KTB Dagaran dan Mulyorejo yang menjadi KTB Sorosutan.

Di tahun ini pula, 15 KTB baru akan dibentuk. Hari menuturkan, pihaknya akan mengutamakan kawasan pinggir sungai. Namun tidak menutup kemungkinan, Kampung-kampung wisata yang berpotensi terkena bencana akan didahulukan.

“Masih ada 20 kawasan di pinggir sunga. Mungkin nanti 10 KTB dibangun di kawasan pinggir sungai yang rawan, dan 5 lainnya di daerah lain,” ungkap Hari. (cr7/pra/fn)