MAGELANG – Kebutuhan konsumsi ikan di Kota Magelang mencapai angka 2.500 ton per tahun. Angka tersebut belum bisa diimbangi dengan produksi sendiri yang hanya sebanyak 150 ton per tahun.

Untuk memenuhi kekurangan itu, sebagian besar ikan didatangkan dari luar daerah. Seperti dari daerah pantai utara (Pantura) Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Sebagian besar ikan yang masuk ke Kota Magelang berupa ikan air laut dari berbagai daerah. Terutama dari Pantura dan Jawa Timur,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang Eri Widyo Saptoko.

Saat ini mereka memasang target cukup tinggi untuk produksi benih ikan air tawar di Balai Benih Ikan (BBI) tahun 2019. Untuk dua lokasi BBI, Potrobangsan dan Jurangombo, produksi ikan ditarget 322.500 ekor atau naik 10-20 persen dari tahun sebelumnya.Tantangan untuk mencapai target ini memang tidak ringan. Salah satunya karena ukuran beberapa kolam berkurang, utamanya di BBI 1 di wilayah Kelurahan Jurangombo Selatan.

“Ukurannya berkurang karena terimbas pembuatan jalan akses masuk lokasi TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) Bojong. Ada beberapa kolam yang tadinya berbentuk kotak, menjadi trapesium dengan ukuran lebih kecil,” tuturnya.

Dia menuturkan, meski menghadapi tantangan itu, pihaknya tetap berupaya agar produksi benih ikan di dua lokasi BBI (Jurangombo dan Potrobangsan) terus meningkat. Tidak hanya meningkat dari sisi jumlah, tapi juga kualitas yang dihasilkan.

“Kita selalu berusaha melakukan pembibitan ikan yang unggul dan berkualitas. Kita seleksi untuk mendapatkan bibit yang unggul, sehingga persentase kematian rendah. Sejauh ini resiko kematiannya masih terbilang kecil,” ujarnya.

Di samping bibit yang unggul, menjaga kualitas air juga dilakukan setiap saat. Seperti tingkat keasaman atau Ph selalu diukur. Apalagi sumber air yang menjadi tumpuan dua BBI itu berasal dari aliran Kali B ening dan sumur.

“Bisa dibilang sumber air kita terbatas pada Kali Bening dan sumur. Untuk sumber dari Kali Bening juga penuh tantangan, karena ada sedikit limbah rumah tangganya. Sehingga, kita harus benar-benar memperhatikan kualitasnya,” jelasnya.

Eri menyebutkan, ada lima jenis ikan dalam pembibitan ini, yaitu nila, gurami, lele, koi, dan komet. Dari kelimanya, ikan nila menjadi yang terbanyak dengan 200.000 ekor dan terbanyak kedua lele dengan 100.000 ekor serta tersedikit koi 2.500 ekor.

Dari target produksi ini, lanjut Eri, target pendapatan dari penjualan sekitar Rp 35 juta selama tahun 2019. Sasaran penjualan masih sekitar warga lokal Kota Magelang sampai luar kota, seperti Kabupaten Magelang, Temanggung, dan lainnya.

“Setiap tahun selalu kami naikkan, termasuk tahun 2020 naik menjadi Rp 37,5 juta dan tahun 2021 naik lagi menjadi Rp 40 juta. Pasarnya masih bagus, meski ukuran kolam kita sebenarnya tidak ideal, tapi masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” tandas Eri. (dem/laz/fn)