JOGJA – Keraton Ngayogyakarta kehilangan satu bangsal. Setelah angin kencang menumbangkan pohon di kompleks Sitihinggil Kamis (24/1). Pohon soko setinggi 20 meter itu tumbang menimpa bangsal Kori. Hingga bangunan bangsal yang dijadikan abdi dalem standby itu ambruk.

”Kejadian sekitar pukul 15.00. Tidak ada korban jiwa,” jelas Suyatman, personel Pusat Pengendalian Operasi (Pudalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja.

Suyatman menengarai tumbangnya pohon itu karena rapuh. Terutama, akarnya.”Usianya sudah tua,” ucapnya.

Bangsal Kori digunakan abdi dalem standby menyambut pengunjung. Di bangsal ini pula abdi dalem berjaga untuk menjawab pertanyaan pengunjung seputar keraton.

RATA DENGAN TANAH: Bangsal Kori di kompleks Sitihinggil ambruk setelah tertimpa pohon tumbang Kamis (24/1). (BPBD KOTA JOGJA FOR RADAR JOGJA)

Menurutnya, sejumlah personel BPBD dikerahkan untuk melakukan evakuasi.
”Untuk memotong pohon dan ranting yang berserakan,” ujarnya.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Djoko Budiono mengatakan, intensitas angin dan curah hujan di DIJ meningkat. Tingginya curah hujan disebabkan tekanan rendah di arah selatan pesisir Nusa Tenggara Timur. Tekanan ini kemudian menyebabkan berubahnya pola angin, sehingga berdampak di beberapa wilayah. Termasuk Jogjakarta.

”Hal itu mendukung pembentukan awan hujan,” jelasnya.

Dampak dari berubahnya pola angin itu, lanjut Djoko, juga memengaruhi tinggi gelombang di pesisir selatan Jawa. Bahkan, BMKG memperkirakan gelombang pantai selatan dapat mencapai empat meter.

”Untuk itu masyarakat, khususnya nelayan harus waspada,” imbaunya. (cr5/zam/fn)