GUNUNGKIDUL – Mengonsumsi minuman keras (miras) lalu dicabuli. Itulah modus tindakan asusila yang melibatkan anak baru gede (ABG) belakangan ini. Baik pelaku maupun korbannya. Seperti nasib yang dialami seorang siswi SMP (sekolah menengah pertama) di Kecamatan Semin. Sebut saja Bunga. Remaja putri berusia 13 tahun ini menjadi korban perbuatan tidak senonoh usai diajak pesta miras. Oleh enam temannya.

”Kejadiannya Sabtu (5/1) lalu,” jelas Kapolsek Semin AKP Haryanta Kamis (24/1).

Sore itu, Bunga menerima telepon dari Ks, teman sebayanya. Dalam percakapan jarak jauh itu, Bunga diajak nongkrong di Terminal Semin. Bersama lima teman KS yang lain. Bunga mengiyakan. Namun, dia tak berangkat sendiri. Dia mengajak temannya. Sebut saja Mawar. Menuju Terminal Semin.

”Kemudian, mereka pesta miras hingga teler,” ucapnya.

Di bawah pengaruh alkohol, Ks dkk mengajak Bunga dan Mawar berpindah lokasi. Menuju ke salah satu rumah kosong di Pedukuhan Logantung, Desa Sumberjo, Kecamatan Semin. Namun, Mawar memilih pulang. Tinggal Bunga menjadi satu-satunya cewek di antara lima ABG tanggung itu. Di tempat inilah Bunga dicabuli. Oleh enam temannya.

”Selasa (15/1) korban mengadu ke orang tuanya. Lalu melapor ke polsek,” lanjutnya.

Haryanta menyebut empat dari enam pelaku telah diciduk. Mereka adalah Ks, Rs, Ad, dan Yr. Dua pelaku lain masih dalam pengejaran.

”Khusus Ks tidak ditahan karena masih di bawah umur,” ungkapnya.
Dari pemeriksaan diketahui Bunga memang mengalami pelecehan seksual. Namun, keenam pelaku tidak sampai melakukan hubungan badan.

”Ada luka (di kemaluan, Red), karena diraba-raba oleh para tersangka,” bebernya.

Keempat pelaku yang masih berstatus sebagai pelajar itu dijerat dengan Pasal 81 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara.

Dari catatan Radar Jogja, kasus serupa pernah terjadi Oktober tahun lalu. K, 17, dan A, 17, dua ABG dari Kecamatan Pandak, Bantul menjadi korban pelecehan seksual. Pelakunya adalah Stevanus Budiono, 27, warga Srandakan, Bantul.

Pelecehan seksual itu bermula dari dunia maya. A berkenalan dengan pelaku melalui media sosial. Penasaran, keduanya akhirnya pun bertemu. Namun, A tidak sendirian. Dia mengajak K. Mereka bertiga lalu menghabiskan waktu di Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS). Dengan menenggak miras. Hingga larut malam. Setelah teler, mereka bertiga menginap di salah satu losmen di Desa Girijati, Kecamatan Purwosari. Di losmen itulah pelaku mencabuli dua ABG itu.

Sementara itu, dr Ida Rochmawati, psikiatri RSUD Wonosari melihat, terjerumusnya ABG dalam perbuatan asusila karena ada paradigma berbeda dalam relasi. ABG cenderung menjadikan temannya sebagai role model. Remaja cenderung memiliki keterikatan dengan kelompok seusianya. Karena itu, ”hitam putih” ABG tergantung dengan kelompok pergaulannya.

”Sehingga perlu introspeksi dan evaluasi terhadap pola asuh dan sistem di sekolah,” tuturnya. ”Kalau anak-anak menjadikan orang tuanya sebagai role model,” lanjutnya.

Kendati begitu, Ida mengingatkan, anak yang menjadi korban asusila harus mendapatkan pendampingan dan perlindungan psikologis. Tujuannya mengantisipasi dampak negatif di masa dewasa.

”Masa remaja adalah masa transisi fisik dan mental,” ingatnya. (gun/zam/fn)