SLEMAN – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat mewaspadai dampak dari Siklon Tropis Riley. Siklon ini muncul di Perairan Selatan Laut Timor.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Mlati, Sleman, Agus Sudaryatno mengungkapkan, Siklon Tropis Riley berpengaruh terhadap cuaca di Jogjakarta. Setidaknya ada dua pengaruh siklon tersebut.
Pertama, membentuk konvergensi (pertemuan angin) di wilayah Jawa. Sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan tipe konvektif.

“Oleh karena itu, hujan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di seluruh wilayah Jogjakarta,” kata Agus (27/1).

Kedua, aktivitas Siklon Tropis Riley juga mengakibatkan peningkatan kecepatan angin di perairan selatan Jogjakarta. Kecepatan maksimum 40 kilometer per jam. Akibatnya akan ada peningkatan tinggi gelombang laut antara dua meter hingga empat meter.

“Diperkirakan, dua pengaruh ini masih akan berdampak terhadap cuaca di Jogjakarta hingga 30 Januari 2019,” kata Agus.
Dia mengimbau masyarakat mewaspadai potensi genangan, banjir, dan longsor yang bisa saja terjadi. Selain itu, tidak berlindung di bawah pohon. Sebab angin kencang bisa merobohkan pohon maupun baliho.

“Masyarakat yang berada di pesisir pantai juga diimbau waspada ancaman gelombang tinggi,” kata Agus.

Kepala Seksi Mitigasi Bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Joko Lelono mengaku, telah memetakan lokasi yang berpotensi longsor maupun banjir. Terutama banjir lahar hujan di sungai yang berhulu di Lereng Merapi.

Hanya saja, untuk banjir lahar hujan potensinya masih belum tinggi. Jumlah material di Lereng Merapi masih sedikit. Sehingga untuk luapan lahar hujan potensinya kecil. Apalagi sungai sudah dalam, dan banyak pohon yang menghambat aliran air.

Joko meminta masyarakat yang berada di dekat sungai waspada. Seperti di Kali Gendol, Opak, Kuning, Krapyak, dan Boyong.
Pihaknya telah menyiapkan 20 early warning system (EWS) yang terpasang di Lereng Merapi. Dia memastikan EWS dalam kondisi baik. “Lokasi EWS untuk lahar dan awan panas di Kali Gendol, Opak, Kuning, Krapyak dan Boyong,” kata Joko.

Longsor juga berpotensi cukup besar di Sleman. “Ada 33 EWS longsor yang dipasang. Tiga merupakan EWS utama. Lainnya EWS sederhana,” kata Joko.
Dia meminta masyarakat sadar terhadap bencana. Bisa merespons sesuai arahan. “Setiap dusun sudah kami beri standard operating procedure (SOP). Jadi kami harap kalau ada bencana bisa merespons sesuai SOP,” pinta Joko. (har/iwa/tif)