Dilewati tiga sungai besar, Kota Jogja termasuk wilayah yang rawan terjadinya bencana. Selain banjir dan longsor di kawasan sungai, juga rawan bencana gempa, puting beliung, kebakaran hingga erupsi Gunung Merapi. Salah satu cara mengantisipasi dampaknya dengan membentuk Kampung Tangguh Bencana (KTB).

Gempa bumi dengan kekuatan 6,3 SR di selatan Bantul dengan waktu sekitar 50 detik, merusak beberapa bangunan di kampung Purwodiningratan Ngampilan Jogja. Bunyi kentongan dan tiang listrik yang dipukul menjadi tanda terjadinya gempa.

Petugas KTB Purwodiningratan segera meminta masyarakat untuk berkumpul di titik kumpul di tanah lapang. Melalui handy talky (HT) petugas KTB juga melakukan koordinasi dengan mendata apakah masih ada warga yang menjadi korban. “Termasuk diwaspadai jika ada orang tidak dikenal masuk kampung,” ujar Ketua KTB Purwodiningratan Lilik Zamroni saat simulasi bencana gempa dan kebakaran di kampung Purwodiningratan beberapa waktu lalu.

Koordinasi juga dilakukan untuk mendata warga, terutama yang mengalami luka maupun harus dievakuasi. Petugas KTB juga diminta segera melaporkan kepada instansi terkait, termasuk jika memerlukan bantuan evakuasi. Juga para ibu yang segera membuka dapur umum jika ada pengungsian. Menurut Lilik simulasi sebagai persiapan warga jika sewaktu-waktu terjadi bencana. “Kami tidak mengharapkan tapi jika terjadi (bencana) warga sudah tahu apa yang harus dilakukan,” ungkapnya.

Ya keberadaan KTB tersebut, bagi Kepala Pelaksana BPBD Kota Jogja Hari Wahyudi layaknya early warning system (EWS) atau peringatan dini saat terjadi bencana. Saat ini dari sekitar 250 kampung di Kota Jogja, sudah 97 kampung yang memiliki KTB. Aslinya ada 100, tapi tiga kampung, setelah Pemkot Jogja mengeluarkan Peraturan Wali Kota nomor 72 tahun 2018 tentang Pedoman Pembentukan Kepengurusan Kampung, ada beberapa Kampung yang digabung sehingga total KTB berjumlah 97.

Hari menjelaskan untuk tiap KTB  setidaknya terdiri dari 30 orang relawan. Para relawan yang nantinya siap membantu masyarakat jika terjadi bencana di tingkat kampung. “Untuk satu kampung sendiri, setidaknya ada sekitar 1.000 warga. Harapannya dengan 30 penggerak yang ada di satu KTB bisa menjadi guide untuk warga lain jika terjadi bencana,” jelas mantan Kepala Bagian Umum Pemkot Jogja itu.

Hari mengatakan jika kemampuan masyarakat untuk melakukan antisipasi dan penanganan bencana sudah baik. Meskipun perlu terus ditingkatkan. Itulah yang diharapkan peran KTB untuk memberikan pelatihan apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana. Itu pula yang akan dilakukan BPBD Kota Jogja dengan melakukan evaluasi KTB yang sudah berdiri. Lewat peninjauan, BPBD bisa menilai keaktifan KTB dalam menjalankan berbagai program dan kegiatan. Guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat saat terjadi bencana. “Melihat kemampuan KTB melakukan penanganan saat terjadi bencana,” katanya.

Tiap KTB juga direncanakan dibekali fasilitas penunjang tersebut berupa sepeda motor roda tiga, genset, mesin pompa serta gergaji listrik. Meski saat ini belum semua KTB yang memperolehnya. Sedangkan untuk dukungan peralatan mitigasi, BPBD Kota Jogja memiliki peralatan EWS yang dipasang di sungai. Khususnya Sungai Code, untuk mengingatkan masyarakat jika ada peningkatan debit air. Sebelumnya BPBD Kota Jogja, juga telah membentuk forum koordinasi untuk seluruh KTB yang ada di Kota Jogja. Dengan forum tersebut harapannya setiap KTB bisa saling berkomunikasi satu sama lain saat bencana datang. “Tujuan KTB ini selain membantu masyarakat, juga untuk mengarahkan dan menenangkan masyarakat agar tidak panik,” ujarnya.

Selain KTB, upaya untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bencana dilakukan dengan membentuk sekolah aman bencana. Tahun ini, akan dilakukan sosialisasi terhadap enam SMP negeri di Kota Jogja. (**/cr5/cr7/pra/tif)