Menu makanan tradisional yang disajikan dalam kemasan modern mewarnai makan siang kunjungan tamu dari Hongaria di Pendapa Rumah Dinas Bupati Purworejo, Selasa (29/1). Pemkab tidak menggunakan jasa katering umum, namun memanfaatkan anak-anak jurusan Tata Boga SMKN 3 Purworejo.

BUDI AGUNG, Purworejo

Sambutan tari kuda kepang kreasi baru dari Desa Popongan, Banyuurip, menjadi sambutan pembuka kehadiran tamu istimewa Purworejo dari Hongaria. Ada tiga orang yang hadir yakni Wakil Duta Besar Hongaria Peter Varfi, Direktur Nasional Aquakultur Bela Halasi Kovacs, serta seorang pengusaha.

Deretan produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) Purworejo juga disajikan untuk diketahui tamu terhormat tersebut. Mulai dari batik khas Purworejo, usaha pembuatan sepatu, makanan ringan gadung, gula semut, minuman dari kulit manggis, Kopi Seplawan serta produk UMKM unggulan lainnya.

Ketiga tamu memang tidak langsung digiring menuju pringgitan rumah dinas. Setelah mendapatkan tarian sambutan yang berbarengan dengan waktu salat Duhur, saat sebagian pendamping bupati melakukan salat, ketiga tamu menyambangi produk-produk UMKM yang ada.

Terlihat ada antusiasme terhadap produk lokal tersebut. Satu per satu dari jenis kulier, mereka melakukan percobaan. Satu di antaranya mencicipi buah manggis dari Desa Somongari, Kaligesing. Mereka begitu menikmati, namun dari keterangan pemandu yang ada, buah manggis itu sebenarnya diminati namun memiliki proses pengiriman yang panjang dan mahal.

Manggis untuk bisa sampai di Hongaria harus memanfaatkan jasa penerbangan, sedangkan untuk perjalanan laut membutuhkan waktu yang lumayan panjang. Sedangkan dari sisi ketahanannya tidak memungkinkan.

Dari keterangan yang diperoleh, manggis sebaiknya diolah terlebih dahulu menjadi semacam minuman kemasan untuk bisa dikirim ke Hongaria. Selain itu bisa juga diwujudkan dalam bentuk ekstrak.

Usai memberikan apresiasi dan mencicipi aneka makanan ringan itu, mereka diajak ke ruang pringgitan yang telah disiapkan hidangan makan siang. Ruangan yang sebelumnya ditempatkan kursi-kursi panjang itu diubah menggunakan meja bundar. Dari beberapa sudut terlihat anak-anak muda, baik perempuan dan lelaki, telah siap untuk memberikan pelayanan.

Ya, mereka adalah anak-anak SMKN 3 Purworejo yang mendapat kehormatan membantu. Dari dua meja utama hidangan yang ada, terdapat beberapa menu, antara lain, soto ala stasiun yang menjadi kekhasan Purworejo, nasi tumpeng merah putih, dengan lauk mangut gurami serta osik daging. Masih ada naget tempe serta pecel gulung. Minumannya pun berbeda yakni es camcau dengan penutup makanan berupa puding non susu.

Guru pengampu Ida Supriyatiningsih mengungkapkan, pemkab memang meminta pihaknya menyiapkan masakan lengkap dengan penyajiannya untuk menyambut tamu-tamu itu. Dia melibatkan 16 siswa yang dibagi dalam dua tugas. Delapan anak berada di dapur untuk memasak, dan delapan lainnya berseragam batik berjaga di pringgitan.

“Mereka adalah siswa kelas XI. Sebenarnya memiliki kemampuan yang sama, baik memasak maupun penyajian. Jadi ditempatkan di manapun sudah siap,” kata Ida.

Hidangan yang disajikan sebenarnya tidaklah istimewa dan menjadi menu yang biasa bagi masyarakat. Dia menyebut makanan itu termasuk tradisional. Hanya saja penyajiannya modern, di mana jenis pecel sengaja dibuat menarik yang memanfaatkan kol muda untuk melingkari beberapa sayuran yang lain.  “Ini menjadi kekhasan kami  dan tampilannya menjadi menarik,”  tambah Ida.

Kepala Bagian Umum Edy Noviyanto yang bertanggung jawab untuk penyambutan ini mengaku, untuk tamu-tamu dari luar negeri, pihaknya memilih menggunakan SMKN 3 Purworejo. Dalam hal ini, pemkab ingin menunjukkan anak-anak SMK itu memiliki kemampuan dengan sajian yang menarik. (laz)