SLEMAN – Masih adanya persekusi terhadap profesi wartawan, menjadi salah satu kekhawatiran bagi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Terlebih memasuki tahun Pemilu 2019 ini. Karena itu, PWI ingin menyuarakan aspirasi agar masyarakat dan semua pihak mampu menghormati profesi jurnalistik.

“Kita prihatin dan khawatir dengan keselamatan teman-teman wartawan. Seperti yang baru-baru ini menimpa salah satu rekan wartawan saat meliput sebuah partai,” ujar Ketua PWI DIJ Sihono HT saat menghadiri audiensi di kantor Radar Jogja, Rabu (30/1). Tak hanya mengalami persekusi, hasil rekaman dan peliputan wartawan tersebut bahkan disita. “Harus dihentikan. Jangan sampai terjadi lagi,” sambungnya.

Menjelang Hari Pers Nasional (HPN) pada 9 Februari mendatang, PWI pun mengajak seluruh rekan pers untuk bersatu. Yakni saling mempererat hubungan untuk mengatasi masalah-masalah serupa. Sebab, profesi wartawan atau pers dilindungi oleh Undang-undang. “Tidak bisa melakukan persekusi secera semena-mena,” paparnya.

Untuk mempererat hubungan antar wartawan di seluruh media, khususnya di Jogjakarta, PWI DIJ mengadakan serangkaian acara. “Kami ada beberapa progam untuk memperingati Hari Pers Nasional yang ke-73,” ujar Ketua Panitia Acara Hudono.

Program tersebut diataranya yakni ziarah ke makam Ki Hajar Dewantara di daerah Taman Siswa. Lalu dilanjutkan dengan ziarah ke makam beberapa tokoh pers. “Nantinya ada acara-acara tambahan yang masih kita susun,” kata Hudono.

Karena itu, dia meminta kepada seluruh pemimpin redaksi di media masing-masing, agar mengajak rekan-rekan wartawan bergabung. “Kita sengkuyung, kita ramaikan,” imbuhnya.

PWI DIJ saat ini juga tengah berusaha membangun Graha Pers Pancasila. Graha yang rencananya dibangun di kantor PWI DIJ tersebut masih dalam tahap proses pengurusan. PWI berharap hal itu bisa terwujud tahun ini. (cr9/pra/riz)