Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi topik hangat dengan guyuran dana besar bagi desa dari pemerintah pusat. Diharapkan badan usaha ini akan berkembang dan memberikan kontribusi pendapatan bagi desa.

BUDI AGUNG, Purworejo

Pertumbuhan BUMDes di Kabupaten Purworejo mulai menanjak di tahun 2017. Tercatat hingga awal 2019 ini ada sekitar 250 BUMDes telah terbentuk dari total 369 desa di Kabupaten Purworejo.

Beragam usaha dilakukan, mulai yang remeh temeh hingga kegiatan dengan modal lumayan besar. Kecapakan personel dalam kepengursan BUMDes menjadi sebuah tantangan agar yang menjadi harapan itu berjalan baik. Bukannya malah tumbang menyisakan utang.

Satu dari sekian banyak BUMDes yang ada di Purworejo adalah Jambe Mule di Desa Jelok, Kaligesing. Berproses dari bawah dengan menyerap aspirasi dari seluruh RT dan RW, BUMDes ini mampu membukukan keuntungan dan menyetor bagi pendapatan asli desa senilai Rp 12,492 juta. Bukan sebuah nilai yang banyak dari kegiatan usaha, namun ini menjadi hal nyata dan baru kali pertama terjadi di desa itu.

Dikomandani Imam Prayodi, 38, sebagai direktur, setidaknya ada lima usaha yang dijalankan yakni bank sampah, usaha toko bangunan, budidaya tawon klanceng, cuci sepeda motor dan pembayaran online. Dari sekian usaha itu, pengembangan tawon klanceng memang menjadi kegiatan yang menarik karena nilai jual madu yang dihasilkan cukup tinggi.

Dari hasil usaha itu, BUMDes Jambe Mule sebenarnya bisa mendapatkan keuntungan senilai Rp 24,9 juta. Dan aturan yang ada dari pemerintah, 50 persen dari pendapatan itu wajib disetorkan ke pihak pemberi modal yakni desa.

“Ini yang membanggakan bagi kami, ternyata yang kami lakukan di BUMDes bisa menghasilkan dan memberikan pemasukan bagi desa. Sebuah awal yang baik,” kata Imam, Rabu (30/1).

Dari hasil itu, Imam mengaku ada konsekuensi yang harus dijalani pengurus. Mereka harus mampu meningkatkan pendapatan bagi desa. Ia optimistis, target-target yang ditetapkan akan berjalan dengan baik, apalagi usaha yang dilakukan terus berkembang.

Capaian dan setoran yang diberikan BUMDes Jambe Mule tak pelak membuat Kepala Desa Jelok Fery Sulistyo bisa berbangga hati. Setidaknya dari penyertaan modal senilai Rp 263,8 juta di tahun 2018, bisa memberikan hasil.

“Ini menunjukkan BUMDes yang dikembangkan di Jelok bisa berjalan dan menghasilkan. Tentunya kami akan terus mendorong agar produktivitas mereka semakin meningkat dan bisa ikut mensejahterakan masyarakat di Desa Jelok,” kata Fery.

Dia memang tidak melihat dari besaran yang diberikan oleh BUMDes. Akan tetapi dari berbagai kegiatan yang dilakukan unit usaha telah berjalan dengan baik. Dalam tahun ini, Desa Jelok telah menyiapkan dana Rp 168,550 juta untuk membiayai berbagai kegiatan yang telah direncanakan.

“Untuk tahap awal, pendapatan ini memang akan diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan perangkat karena selama ini masih minim dan di bawah UMK. Hal ini boleh dilakukan sesuai aturan yang ada,” tambahnya.

Secara khusus, pihaknya meminta manajemen BUMDes untuk bisa memperhitungkan kebutuhan dana yang diperlukan selama periode kepengurusan. Terbatas hanya lima tahun, diharapkan kebutuhan itu akan dicukupi selama periode berjalan. (laz/riz)