Keduanya mulai berpikir. Agar tetap bisa beraktivitas nyaman. Saat listrik padam malam hari. Mereka sadar. Selama ini tinggal di wilayah yang sering mengalami pemadaman listrik. Maka lahirlah La Helist. Lampu darurat hemat energi.

FAIRIZA INSANI, Sleman

ADALAH Chaieydha Noer Afiefah dan Fadhiela Noer Hafiezah. Yang membidani lahirnya lampu hemat energi itu. Mereka asal Blora, Jawa Tengah. Saat ini sang kakak, Chaieydha, sedang menempuh pendidikan S2 di fakultas pertanian. Adiknya, Fadhiela, tengah menyelesaikan S1 jurusan teknik mesin. Keduanya sama-sama mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Momentum itu datang pada 10 Desember 2018 lalu. Saat keduanya berhasil lolos presentasi untuk penelitian inovasi produk teknologi. Mereka mendapatkan pendanaan Program Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT). Program dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Soal ide, Chaieydha bicara blak-blakan. “Karena Blora sering mengalami pemadaman listrik. Apalagi saat musim hujan,” ungkapnya, Jumat (1/2).

Kondisi itulah yang mendorongnya, bersama sang adik, menciptakan lampu darurat. Dengan harapan bisa menjadi solusi bagi masyarakat. Mereka tak ingin pemadaman listrik mengganggu aktivitas masyarakat. Sebenarnya ada sarana lain yang bisa menjadi alternatif sumber cahaya. Menyalakan lilin, misalnya.

Memang mudah dan praktis. Tapi bersisiko kebakaran. Lantas muncullah ide lampu darurat. Keduanya memanfaatkan fitting lampu yang dimodifikasi. Lampu emergency yang mereka namai La Helist bertenagakan baterai. Pakai tipe AA 1,5 volt. Karenanya cukup aman dan praktis.

“Cukup pakai baterai yang biasa untuk jam dinding. Tapi nyala lampu tak beda dengan yang menggunakan daya listrik PLN,” jelas Fadhiela saat mengenalkan produk karya merka di kantor Humas dan Protokol UGM.

La Helist memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya pada komponen-komponen penyusunnya. Berupa material lokal. Mudah ditemukan di pasaran. Seperti lampu led, fitting, , trafo ferit, kumparan tembaga, resistor, transistor, saklar, dan batu baterai. “Lampu darurat ini bisa menyala lebih dari 12 jam,” ujar Fadhiela.

Durasi penggunaan lampu itu dinilai jauh lebih aman daripada menggunakan lilin.

La Helist dirancang secara sederhana. Sehingga cukup mudah dipakai masyarakat awam sekalipun. Dilengkapi dengan saklar untuk memudahkan on / off-nya. “Pembuatan lampunya pun cukup sederhana. Hanya perlu teliti dan sabar. Terlebih di bagian konfigurasi lilitan kumparan,” jelasnya.

La Helist juga bisa dibilang ramah lingkungan. Sebab bahan bakunya bisa memanfaatkan barang-barang bekas. Trafo bekas, misalnya. Bisa digunakan untuk membuat sebuah La Helist.

Hanya bohlam yang disuplai dari toko elektronik.

Ada dua jenis La Helist yang mereka kembangkan. Pembedanya hanya pada dayanya. Berdaya 3 watt dan 9 watt. Lampu berdaya 9 watt dibanderol Rp 60.000. Sedangkan yang berdaya 3 watt Rp 50.000. Ternyata La Helist mudah diterima pasar. Menurut Fadhiela, dalam setahun terakhir terjual sedikitnya 8.000 unit.

Untuk pemasarannya mereka memanfaatkan media sosial. Itulah yang membuat La Helist laris manis di pasaran. Bahkan produknya telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia. Konsumennya tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Dibantu ayah mereka yang memiliki bengkel, Chaieydha dan Fadhiela tak menemukan kesulitan untuk pengembangan La Helist. Keduanya telah melakukan trial and error sejak 2017 silam.

Hingga kini mereka masih terus mengembangkan produk lampu emergency. Khususnya pada aspek pengemasan (packaging). Selain itu mereka akan kembali melakukan riset untuk menaikkan tegangan lampu. Dari 1,5 volt menjadi 3 volt. Juga mengembangkan baterai recharge.
“Lampu ini cocok juga untuk mahasiswa yang kos. Garansinya satu tahun,” ujar Fadhiela sembari promosi. (yog/riz)