JOGJA – Bentrok antarsimpatisan partai politik (parpol) di berbagai wilayah di Kota Jogja belakangan ini mengundang keprihatinan para pemangku kepentingan. Guna mencegah bentrok serupa, kepolisian, komisi pemilihan umum, badan pengawas pemilu, hingga pengurus parpol se-Kota Jogja, Jumat (1/2) menggelar diskusi.

Diskusi bertajuk Jogja Istimewa Tanpa Kekerasan yang digelar di Balai Kota Jogja itu untuk merumuskan cara mengantisipasi gesekan yang kerap terjadi selama pemilihan umum tersebut.

Kapolresta Jogja Kombes Pol Armaini mengungkapkan, perlu komitmen bersama untuk mengantisipasi bentrok antarsimpatisan parpol. Salah satunya komitmen parpol. Setiap pengurus parpol harus punya komitmen untuk mewujudkan kampanye damai dan sejuk. Komitmen ini juga perlu ditunjang dengan kerja sama dan koordinasi lintas sektor yang memadai.

Itu untuk memastikan jumlah massa yang akan ikut berkampanye. Sebab, jumlah massa sering tidak sesuai dengan izin kampanye yang diajukan. Padahal, kepastian jumlah massa memengaruhi persiapan kepolisian.

”Contohnya seperti yang terjadi di Mandala (Stadion Mandala Krida, Red). Izinnya dua ribu orang. Tapi, yang datang sepuluh ribu orang,” sindirnya.

Sebagai penanggung jawab keamanan dan ketenteraman, Armaini berjanji bakal menjaga kondusivitas Pemilu 2019. Caranya dengan menggelar patroli dan menyiagakan personel di seluruh titik rawan. Ini untuk mencegah dua kubu simpatisan parpol bertemu.

”Karena konflik akan terjadi jika ada niat dan kesempatan, sama seperti motif kejahatan. Jika keduanya dapat dicegah, maka kesempatan hanya tinggal kesempatan dan niat hanya akan tinggal niat,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Jogja Hidayat Widodo juga berharap tidak ada lagi kekerasan dalam Pemilu 2019. Sebab, kampanye terbuka sebenarnya masih dilaksanakan Maret mendatang.

Seperti Kapolresta, Hidayat juga ingin parpol bisa menjaga kenyamanan serta melakukan kampanye dengan jujur. Sebab, pemilu harus dilalui dengan jujur dan tanpa kecurangan.

“Karena pemilu ini merupakan kompetisi untuk mencari yang terbaik. Tidak boleh ada kecurangan, kekerasan, maupun ekploitasi anak,” katanya.

Sementara itu, Ketua Bawwaslu Kota Jogja Tri Agus Inharto mengatakan hingga saat ini sudah melakukan penertiban kepada sejumlah 2811 alat peraga kampanye yang terbukti melanggar. Pihaknya juga berharap para peserta pemilu tidak melakukan kecurangan.

”Marilah bersama-sama kita wujudkan Kota Jogja yang aman dan nyaman. Serta Jogjakarta tanpa kekerasan,” serunya. (cr5/riz)