JOGJA – Ada beragam teknik dan cara untuk membuat motif pada kain. Mulai dari membatik, menyulam, menenun, hingga membordir. Kini, ada pula teknik baru membuat motif pada kain yakni bernama ecoprint. Mulai menjadi tren sejak dua tahun terakhir, teknik tersebut terbilang unik dan mudah.

Indah Rushartini adalah satu di antara semakin banyak perajin yang menggeluti kain ecoprint. Meski usaha tersebut digelutinya selama dua bulan terakhir, dia sudah aktif ikut di beberapa pameran. Berawal dari keisengan, Indah mulanya justru mempelajari cara membuat kain Shibori ini.

Kain Shibori adalah teknik pelipatan dan pencelupan kain. Teknik itu dibawa dari Negeri Sakura, Jepang. “Kalau di Jawa tekniknya mirip jumputan,” ujar Indah saat ditemui Radar Jogja di rumahnya, Jalan Kapten Laut Samadikun No 14, Bintaran Tengah.

Untuk kain Shibori, dia mempelajarinya saat ikut pelatihan di kelurahan. Dari situlah Indah justru penasaran dengan cara membuat ecoprint. Kebetulan di kampung akan diadakan pelatihan ecoprint. Tapi nggak jadi dilaksanakan sampai sekarang. “Akhirnya saya iseng belajar sendiri lihat di Youtube,” jelas ibu satu anak itu.

Dari Youtube, Indah kemudian mulai mengumpulkan beragam jenis dedaunan. Mulai dari daun jati, rumput teki, hingga tanaman paku-pakuan.

Ada beberapa teknik yang digunakan Indah untuk menghasilkan motif ecoprint. Di antaranya yakni pounding (dipukul) dan steaming (dikukus). Untuk pounding, daun yang telah dikumpulkan lantas dipukul-dipukul di atas lembaran kain putih. Daun itu nantinya akan mengeluarkan warna alami. Lakukan pounding sampai warna yang tercetak di atas kain cukup jelas. Bahkan hingga tampak tulang-tulang daunnya.

Kain yang selesai dipukul-pukul, lalu didiamkan beberapa malam. Tujuannya, agar warna daun kering dan melekat pada kain. Setelah itu, kain dibilas, atau menurut Indah istilahnya dinamakan fiksasi. Proses fiksasi tersebut yakni dengan cara membilas kain. Entah dengan air cuka, air tawas, air kapur, air tunjung. “Biasanya saya pakai air tawas atau tunjung. Kalau air tawas untuk warna agak terang. Air tunjung untuk warna agak gelap,” tutur perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di Malaysia itu.

Sedangkan, teknik steaming (dikukus) merupakan proses lanjutan dari pounding. Jika proses pounding yakni dipukul kemudian didiamkan, maka steaming lantas mengukus kain di dalam dalam panci. Kain tersebut dilipat atau digulung dengan rapi. Dilakukan selama beberapa jam. Usai dikukus, kain lalu direndam air tawas ataupun tunjungan (fiksasi). Tujuannya yaitu agar warna daun tidak luntur saat dicuci.

Indah mengaku, hasil yang diberikan dari proses ecoprint sangat menarik. Sebab, warna dan motif yang dihasilkan pada tiap-tiap kain berbeda. “Itu yang membuat kain ecoprint unik dan eksklusif,” kata Indah.

Dalam sebulan, Indah mampu membuat 20-50 lembar produk kain ecoprint. Proses produksi itu pun di lakukan sendiri. “Karena saya masih merintis, jadi semua dikerjakan sendiri. Belum dibantu karyawan,” ujarnya.

Produknya yang diberi nama IndahKoe Ecoprint itu pun masih dibinanya sendiri. Bukan di bawah suatu instansi.

Selembar kain biasanya memiliki lebar 2,5-3 meter. Dijual dengan harga sekitar Rp 350 ribu sampai Rp 1.300.000. Tergantung dengan jenis kain yang digunakan. Baik berbahan katun premium ataupun sutera.

Indah mengaku, yang membedakan produnya dengan hasil ecoprint lain terletak pada lebar kain. Jika biasanya produsen lain menghasilkan minimal 2 meter. Indah justru mematok lebar minimal 2,5 meter. Hal itu bertujuan untuk menyasar konsumen yang memiliki tubuh lebar dan ingin membuat gamis.  “Saya kasih keleluasan kepada konsumen. Kalau dua meter dijahit kan mepet banget,” katanya.

Tak hanya gamis, melalui kain ecoprint Indah juga bisa membuat tas laptop, dompet, sling bag, tas belanja, hingga alat salat (mukena). Indah pun berharap kelak kian banyak orang yang bisa mengenal produk ecoprint yang unik dan ramah lingkungan. (cr9/din)