JOGJA – Kasus kanker di DIJ cukup tinggi. Dinas Kesehatan DIJ mencatat sedikitnya terjadi 1.223 kasus selama 2018. Didominasi kasus kanker payudara.

Kepala Dinas Kesehatan DIJ Pembajun Setyaningastutie mengatakan, sejauh ini kanker termasuk penyakit yang belum ada obatnya. Proses penyembuhan hanya melalui kemoterapi. Atau terapi obat dalam jangka waktu tahunan.

Ada pula vaksinasi HPV (Human papillomavirus). HPV merupakan golongan virus yang berisikan sekitar 150 jenis virus serupa. Beberapa jenis virusnya dapat menimbulkan kutil. Beberapa lainnya memunculkan kanker. Program vaksinasi oleh pemerintah itu ditujukan untuk anak-anak perempuan kelas V SD.

Pemerintah juga berupaya meminimalisasi kasus kanker dengan menyediakan fasilitas kesehatan terkait. Di antaranya lewat program deteksi dini kanker leher rahim dan payudara. Di seluruh puskesmas se-DIJ.

Dinkes DIJ juga menggandeng tim penggerak PKK (pembinaan kesejahteraan keluarga) untuk meningkatkan jejaring pengendalian kanker. Serta membantu penjaminan pelayanan kesehatan bagi pasien kanker bagi warga Jogjakarta.

Pembajun mengungkapkan, deteksi dini kanker sangat penting. Sebab, dari banyak kasus biasanya telat disadari oleh si penderita. Mereka sadar ketika gejala kanker sudah memasuki stadium lanjut atau 3A ke atas.

Gejala kanker yang diketahui sejak dini, maka treatment (penanganan) bisa lebih cepat dilakukan. “Prognosa kesembuhan juga lebih besar,” kata Pembajun kepada Radar Jogja Minggu (3/2).

Minimnya tindakan deteksi dini kanker juga berpengaruh pada ketidakpastian angka atau data kesembuhan penyintas. Oleh sebab itu sampai saat ini Dinkes DIJ terus berusaha melalukan edukasi kepada masyarakat. Tujuannya, menyadarkan masyarakat sekaligus mendeteksi dini kanker yang menjangkiti warga DIJ.

Pembajun menuturkan, sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab sel-sel tubuh berubah menjadi sel kanker. “Para ahli menduga adanya interaksi antara faktor genetik dengan gaya hidup,” jelas mantan Direktur RS Grhasia itu. Faktor lingkungan dan hormon diduga juga berpengaruh. Sehingga sel menjadi abnormal dan tumbuh tak terkendali.

Terpisah, dokter spesialis hematologi onkologi anak RSUP Dr Sardjito Dr dr Sri Mulatsih MPH SpA mengatakan, kesembuhan seorang penyintas kanker turut dipengaruhi oleh keluarga. “Kalau orang dewasa mungkin ada dukungan suami atau istri, serta anak-anak. Begitu pun dengan penderita kanker anak, ada orang tua, saudara, sampai kakek-nenek (pasien, Red) bisa mendukung kesembuhan,” kata dokter yang kerap menangani kasus leukimia pada anak itu.

Kendati demikian, Sri Mulatsih cukup prihatin dengan angka harapan hidup penyintas kanker di Indonesia. Dengan persentase sekitar 60 persen. Hal itu diduga karena banyak pasien kanker yang datang terlambat untuk mendapatkan penanganan medis.

Sri mengakui bahwa tindakan edukasi sudah banyak dilakukan oleh pihak-pihak terkait. Namun yang perlu ditekankan adalah deteksi dini secepat mungkin. Yakni melalui uji klinis. Baik di puskesmas atau posyandu terdekat.

Sri pun berharap pemerintah mampu menyusun prioritas dan program-program terkait penanganan kanker. Lebih dari itu Sri berharap pemerintah daerah memiliki program serupa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Demi meringankan biaya pengobatan kanker.

Sebagai bentuk peringatan Hari Kanker Sedunia yang jatuh pada hari Senin (4/2), Sri berharap banyak orang lebih peduli pada kanker. “Bukan sekadar slogan, tapi bukti nyata bantuan langsung atas kebutuhan para penyintas kanker,” ujarnya.

Sebelumnya, Sri menyatakan setiap tahun jumlah penderita kanker darah terus meningkat. Per tahun rata-rata ada 200 kasus. Di mana 40 persennya diderita anak-anak. Kanker darah juga belum diketahui penyebab pastinya. Hanya, para ahli berpendapat, kanker darah tergantung tipenya. Ada AAL (leukimia lympoblastic akut) dan AML (leukimia myelogenous akut). Sedangkan untuk orang dewasa tipe kankernya lebih banyak tumor padat. (cr9/yog/tif)