Wajah Malioboro benar-benar berubah. Kawasan pedestrian direvitalisasi. Demi kenyamanan pejalan kaki. Juga dipercantik. Dengan beragam ornamen dan bangku taman. Juga patung. Belakangan hal itu menuai banyak kritik. Karena tak semua patung mencirikan Jogjakarta.

Kurator seni Kuss Indarto memandang pemerintah belum serius. Dalam  fasilitasi pemasangan patung di ruang publik. Terkesan mendadak. Pertimbangan aspek seninya minim. Pun demikian sejarah lokasi pemasangannya.

Dia mendorong pemerintah melibatkan tim kuratorial lintas disiplin ilmu. Tidak hanya seniman. Tapi juga antropolog. Atau sosiolog. Untuk melihat sejarah tempat. Dikorelasikan dengan pemilihan karya patung.

“Tidak bisa asal mengatasnamakan seni,” tegasnya Sabtu (2/2). Peran antropolog dan sosiolog penting. Dalam melihat sejarah suatu daerah. Sehingga patung yang dipasang di ruang publik setidaknya memiliki ikatan sejarah dengan lokasi pemasangannya.

Penerapan pola pandang ini apabila melihat aspek sejarah suatu daerah. Namun untuk sebuah karya kontermporer, menurut Kuss, wujud karyanya cenderung fleksibel. Hanya tetap harus melalui pertimbangan sejarah masa lalu dan dinamika saat ini.

Dia mengamini pemasangan patung di kawasan wisata Jogjakarta selama ini terkesan kejar proyek tahunan. Jangka waktu mulai pemilihan seniman sampai pemasangan patung relatif berdekatan.

Grafis: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA

Terbukti dari beberapa karya yang dipasang tidak sedikit di antaranya merupakan karya lama. Karena itu konsepnya tidak terlalu mengena. Ini karena karya yang dipasang tidak dibuat berdasarkan kesesuaian tema.

“Seharusnya karya ruang publik memiliki tema yang kuat. Agar ada keseragaman,” katanya.

Menurut Kuss, perencanaan bisa memakan waktu hingga satu tahun. Sehingga seniman memiliki waktu untuk berkarya. “Bukan tiga minggu sebelumnya baru terencana,” sindirnya.

Kritik Kuss ini untuk menghindari pemasangan patung ahistoris. Di mana patung tersebut tidak memiliki konsep dan keterikatan yang jelas dengan tempat pemasangannya. Dia mencontohkan pemasangan patung singa di depan kantor Dinas Pariwisata DIJ. Dibandingkan dengan karya patung kerbau raksasa di New York, AS.

“Saat ditilik ternyata itu kawasan distrik kota Buffalo. Sehingga ada keterkaitan (dengan patung kerbau, Red). Kalau dipaksakan, kesannya justru jadi ahistoris seperti yang di Malioboro itu,” ungkap Kuss.

Kuss menilai, Jogjakarta merupakan kawah candradimuka para perupa. Menurutnya, tak kurang 75 pematung profesional ada di Jogjakarta. Artinya, tak ada alasan bagi pemerintah kesulitan memilih seniman patung. Pemerintah tak seharusnya menunjuk satu perupa atau kelompok tertentu. Tapi membuka ruang diskusi terlebih dahulu kepada seluruh perupa patung di Jogjakarta.

Di bagian lain, Kuss memberikan catatan bagi para perupa patung di ruang publik. Karya harus siap diperlakukan secara kasar oleh masyarakat. Ini karena pengawasan dan pelarangan tidak bisa dilakukan setiap hari.

“Dulu pernah ada yang memberi tulisan dilarang mendekat atau menyentuh. Ini justru bersebarangan dengan konsep ruang publik. Saat sebuah karya ditampilkan di luar, maka harus siap ditendang, diduduki, dan mendapat perlakuan kasar,” pesannya.

Kepala UPT Malioboro Ekwanto menyatakan, pameran instalasi seni rupa menjadi salah satu cara pemerintah untuk menarik wisatawan. Karena daya tarik Malioboro dinilai masih sangat terbatas. Atas dasar itulah UPT Malioboro menggandeng para seniman. Sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk mengekspresikan karya. Supaya Malioboro tampak lebih hidup, menarik, dan fantastis. “Selama dari sisi estetika masih bisa diterima,” ungkapnya.

Ekwanto mengatakan, sistem dan prosedur pemasangan instalasi seni rupa di Malioboro cukup mudah. Cukup mengajukan proposal. Tanpa biaya sepeser pun. “Betul-betul free,” tegas mantan Lurah Prawirodirjan itu.

Sistem kurasinya diserahkan kepada para seniman. Adapun aspek yang dinilai adalah seni dengan muatan pesan-pesan moral kepada masyarakat. Soal waktu pemasangannya, menurut Ekwanto, bersifat tentatif. Bentuk karya juga bisa diubah atau diganti. Disesuaikan dengan momentum yang ada. (dwi/cr9/yog/tif)