BEDJOKARTO menjadi salah satu patung yang cukup menyita perhatian publik di Malioboro. Bedjo berarti untung. Karto maknanya aman. Pesan itulah yang ingin disampaikan oleh sang seniman. Kolaborasi tiga pematung: Durvart Angelo, Febrianto Tri Kurniawan, dan Faisal Aditya.

Bedjokarto berkarakter orang Jawa, bertubuh tambun, dan sedang tersenyum lebar. Bedjokarto pun viral di media sosial. Jadi objek foto ratusan wisatawan pengunjung Malioboro. Meski viral, keberadaan Bedjokarto sempat menuai perdebatan masyarakat. Patung yang dulunya dipasang di beberapa titik sepanjang Jalan Malioboro kini dipindah lokasinya. Di Titik Nol Kilometer.

“Bedjokarto menyiratkan makna Jogjakarta harus tetap damai, nyaman, tepo saliro dalam menghadapi masalah apa pun. Terlebih pada saat ini. Menyambut pesta demokrasi pilpres,” ungkap Project Officer Bedjokarto Danang Cahyo Nugroho.

Sebagaimana konsep patungnya, Bedjokarto menjadi simbol untuk mengajak masyarakat Jogjakarta agar senantiasa menjaga kenyamanan, keamanan, dan kebersamaan. Sebagaimana ciri khas Jogjakarta sebagai daerah istimewa. “Itulah kenapa Bedjokarto memiliki arti beruntung dan aman,” katanya.

Unsur kearifan lokal sengaja ditonjolkan. Agar bisa mewakili karakter khas Jogjakarta. Apalagi Malioboro merupakan wajah DIJ bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Danang tak ingin pameran karya di Malioboro hanya berpegang pada idealisme sang seniman. Tanpa memperhatikan aspek budaya yang sebenarnya.

Grafis: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA

Menurut Danang, siapa pun bisa memamerkan karya mereka di ikon wisata Jogjakarta itu. Asal memenuhi semua syaratnya. Pertama, pengajuan proposal. Berisi penjelasan konsep karya dan rencana waktu pameran. Proposal ditujukan ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro.

Pemohon selanjutnya akan diundang untuk presentasi. Hasil presentasi menjadi acuan pemerintah untuk menerbitkan surat izin pameran. Para seniman juga harus mematuhi mekanisme pemasangan patung. Agar tidak merusak fisik Malioboro.

Pengamat seni Ong Hari Wahyu mewanti-wanti para seniman. Kawasan Malioboro merupakan ruang publik. Karena itu pemasangan instalasi karya seni, apa pun bentuknya, tidak boleh sembarangan. Harus memperhatikan beberapa hal. Termasuk faktor keamanan bagi pengguna ruang publik terkait. “Jangan sampai mengganggu kenyamanan dan aktivitas orang di sekitar karya itu. Kenyamanan pengguna jalan harus diperhatikan. Baik anak-anak maupun orang dewasa,” tuturnya.

Bahan atau material patung juga harus tahan cuaca. Tidak mudah pecah dan rusak. Tidak mengotori tempat pemasangan. Bahan warnanya yang tak mudah luntur. ”Apalagi nguwuh, menjadi nyampah. Itu tidak boleh,” ungkapnya.

Estetika dan artistik menjadi unsur penting untuk mencerminkan sebuah daerah. Apalagi Jogjakarta dikenal sebagai kota seni dan budaya. Memiliki banyak ahli budaya, seniman, dan pengamat seni yang berpengaruh pada penguatan karakter Jogja.

”Ya, seharusnya ada kurator. Agar penataan kawasan rapi dan semakin ikonik. Tidak asal pasang. Kan seniman di Jogja itu banyak. Ya tinggal kerja sama saja,” sarannya.

Ong menilai sejauh ini penataan kawasan ruang publik di Malioboro belum melibatkan kurator. Selama ini hanya personal yang kebetulan kenal. ”Seharusnya hal tersebut dirembung bareng, bersinergi antara pemerintah, kurator dan seniman. Agar identitas kota budaya semakin kuat,” tutur Ong.(cr5/cr6/yog/tif)