SLEMAN – Polda DIJ tetap melanjutkan proses penyidikan kasus dugaan pemerkosaan dan pencabulan terhadap mahasiswi Fakultas Fisipol UGM, Agni (bukan nama sebenarnya). Meski, Agni dan Hardika Saputra (HS), terduga pelaku asusila saat KKN di Pulau Seram, Maluku medio 2017 telah bersepakat damai.

”Rangkaian penyidikan saya terus berlanjut,” tegas Direskrimum Polda DIJ Kombes Pol Hadi Utomo di Mapolda DIJ, Rabu (6/2).

Dari rangkaian penyidikan, Hadi membeberkan, penyidik telah mengantongi sejumlah alat bukti. Berbagai alat bukti itu menunjukkan bahwa ada indikasi pemerkosaan dan pencabulan tidak terjadi.

Indikasi ini diperkuat dengan hasil olah TKP Polda DIJ di Maluku pertengahan Januari lalu. Di sana terungkap fakta bahwa jarak pemondokan Agni dan HS hanya 50 meter. Lokasi sekitar pemondokan juga ramai dengan penduduk.
Kendati begitu, Hadi menekankan, hal itu belum menjadi kesimpulan akhir penyidik. Sebab, penyidik masih menunggu satu tahapan lagi.

”Hasil gelar perkara yang menjadi kesimpulan akhir penyidik,” ucap Hadi memastikan penyidik bakal memanggil semua pihak yang terlibat dalam gelar perkara, seperti Agni, HS, dan para ahli.

Hadi berkomitmen bakal menuntaskan penanganan kasus ini. Kepolisian juga tidak akan menutup-nutupinya. Agar masyarakat mendapatkan informasi penanganan dengan gamblang. ”Saya tidak mau bohong kepada publik,” tegasnya.

Terkait kesepakatan damai antara Agni dan HS, Hadi menegaskan, hal itu merupakan ranah berbeda. Kepolisian tetap bakal membuktikan ada pemerkosaan atau tidak. Namun, Hadi mengapresiasi berbagai pihak yang mendorong kesepakatan damai.

Senin (4/2) lalu, Rektor UGM Panut Mulyono mengumumkan bahwa Agni dan HS bersepakat damai. Kesepakatan damai dengan jalur nonlitigasi itu merupakan keinginan Agni.

”Para pihak dengan kesungguhan hati telah saling bersepakat. Memilih penyelesaian nonlitigasi atau penyelesaian internal,” tutur Panut.

Saat dikonfirmasi terpisah, Tommy Susanto, penasihat hukum HS meminta semua pihak menghormati keputusan damai. ”Terkait dengan adanya indikasi tidak ada pemerkosaan dan pencabulan, saya meyakini sekali bahwa klien saya tidak melakukan hal itu,” katanya.

Sementara itu, Direktur Rifka Annisa Suharti merasa tidak nyaman dengan penggunaan istilah ”berdamai”. Sebab, penggunaan istilah itu memunculkan anggapan bahwa Agni menyerah. Meski, Agni beserta tim hukum faktanya memilih jalur nonlitigasi untuk menuntaskan perkara ini

”Pertimbangan utama memilih penyelesaian nonlitigasi adalah kondisi psikis Agni,” kata Suharti di aula Rifka Annisa kemarin. Karena itu, Suharti tetap keukeuh meyakini bahwa apa yang pernah dialami Agni adalah kekerasan seksual. Yakni, tindakan seksual yang dilakukan tanpa persetujuan. (har/cr8/zam/riz)