Untoro merupakan potret semangat untuk berbagi. Hidup di bawah garis kemiskinan dan kelumpuhan, Untoro mengajar dengan gratis. Selama puluhan tahun.

GUNAWAN, Gunungkidul

Badannya sehari-hari memang terbaring di atas ranjang. Di dalam ruangan kamar tidur yang sempit pula. Namun, semangat yang ditunjukkan pria itu melebihi orang normal. Tubuhnya yang lumpuh lebih dari 40 tahun lalu itu tak menghalanginya mengajar.

”Sejak 34 tahun lalu, tiap sore ada jadwal belajar bersama anak-anak,” kata Untoro, pria itu, sembari menyalami anak didiknya yang berpamitan pulang.
Padahal, perjalanan untuk sampai ke rumah Untoro cukup terjal. Seperti saat Radar Jogja ke kediamannya Rabu (30/1) lalu.

Melewati jalan setapak nan menanjak. Awan hitam yang menggantung di langit turut mengiringi perjalanan ke rumah yang terletak di Pedukuhan Klampok, Desa Giripurwo, Kecamatan Purwosari, tersebut.

Sore itu, beberapa anak tampak menenteng buku. Satu per satu lantas masuk ke ruangan yang sangat sederhana itu. Sebuah ruangan yang hanya berpintu kain. Menunggu sang guru menyampaikan pelajaran.

Satu per satu anak seusia siswa sekolah dasar itu pun menunggu gilirannya. Di sebuah ruangan yang sebagian batas sisinya hanya berupa tripleks. Dari tempat tidur dengan posisi telentang, Untoro membimbing anak didiknya. Seperti orang tua yang membimbing anaknya mengerjakan tugas sekolah. Tulus!

Meski sangat sederhana, kamar tidur Untoro itu mirip ruang kelas. Di beberapa sudut tertempel berbagai rumus matematika. Juga dilengkapi white board.
”Berbagai pelajaran sekolah, seperti matematika, hingga agama,” ujarnya.

Puluhan tahun lalu, Untoro sempat ragu ketika memulai mengajar. Persisnya saat beberapa anak sekitar rumahnya meminta les. Pertimbangannya, kurikulum sekolah saat itu sudah mengalami banyak perubahan.

Berbeda dengan dirinya mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Apalagi, Untoro merasa hanya jebolan kelas VIII SMP. ”Bismillah, saya niati dengan ikhlas mengajari anak-anak,” kenangnya.

Ya, Untoro remaja memang tak lulus SMP. Pada 1976, persisnya saat duduk di bangku kelas VIII, Untoro jatuh di ladang. Dari insiden inilah kelumpuhan Untoro bermula. Dan, dari insiden ini pula berbagai penyakit datang silih berganti menggerogoti tubuh pria kelahiran 1959 ini.

Termasuk di antaranya sakit tenggorokan yang menyebabkan Untoro tidak bisa makan dan minum. ”Sampai akhirnya lumpuh dan hanya terbaring hingga sekarang,” tuturnya.

Berbeda dengan lembaga pendidikan, Untoro tidak sekadar menyajikan berbagai pelajaran sekolah dan agama. Untoro juga membekali anak didiknya dengan pelajaran budi pekerti dalam bersosial. Agar anak didiknya kelak tetap mengedepankan budi pekerti. Sekaligus sebagai benteng dari berbagai pengaruh buruk perkembangan zaman.

”Anak-anak harus diarahkan dalam belajar, karena HP (handphone) rintangan, TV (televisi) juga rintangan, sehingga sekolah bisa menjadi terbengkalai,” ingatnya.

Di mata anak didiknya, Untoro merupakan sosok bersahaja. Juga sosok guru yang dekat dengan anak didiknya. Sekaligus guru yang mengerti kebutuhan anak didiknya.

”Metode pembelajarannya gampang dimengerti. Saya sudah 1,5 tahun belajar matematika dan bahasa Indonesia dengan Mbah Un (nama panggilan Untoro di kalangan anak didiknya, Red),” tutur Zaki Mawas Neswara, salah satu anak didik Untoro.

Benar kata Untoro. Dia sangat memperhatikan aspek sosial. Sebab, Untoro juga meminta anak didiknya menyisihkan uang jajannya. Untuk ditabung. Tabungan itu baru dibuka setahun kemudian. Hasilnya dibagikan kepada orang yang membutuhkan.

”Kecuali Mbah Un,” tutur Zaki. Padahal, Untoro juga hidup dalam kemiskinan. (zam/riz)