MAGELANG-Tahun ini kali kelima warga di bantaran Kali Kota Magelang peduli atas profesi wartawan. Mereka mengadakan ritual yang melibatkan para jurnalis menyambut Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari.

Kali ini, warga Potrosaran, Potrobangsan, Magelang Utara mengelar kirab bertema Darma Warta. “Kami bukan wartawan. Tapi kami peduli dan mengapresiasi kerja wartawan ikut mencerdaskan bangsa,’’ kata sastarawan Magelang ES Wibowo, Kamis(7/2).

Dalam acara itu, pemilik Padepokan Seni Gunung Tidar itu membacakan sajak Dhama Warta. Sajak itu berbunyi, Setelah tinta emas dituliskan/Diqalamkan atasmu kemuliaan/Lalu dengung kabar burung/Di tajam mata penamu larung. Untukmu yang diujar kebencian/Akar teraniaya tumbuh keberanian/Dan dharma warta di palung kalbu/Membabar kebenaran sepanjang waktu.

Menurutnya, Dharma Warta berlatar belakang kekayaan wartawan berupa berita. Wartawan memiliki kesadaran menyampaikan berita-berita kepada masyarakat luas. Wartawan menyampaikan berita secara cuma-cuma. Ini adalah dharmanya. “Maka, kami sebagai pembaca atau penonton memiliki kesadaran memberikan penghargaan kepada pers atas dharmanya,’’ jelasnya.

Sebelumnya, masyarakat yang berbaur dengan pengisi acara dan wartawan melakukan kirab budaya keliling kampung dan menyusuri Kali Kota. Kegiatan ini menjadi prosesi yang wajib ada dalam peringatan HPN di Kota Magelang, lima tahun terakhir. Pentas seni topeng ireng dan performance art menjadi hiburan bagi warga dan jurnalis.

“Kami memuji konsistensi yang selalu disajikan dan digagas ES Wibowo bersama segenap warga Kampung Potrosaran Kota Magelang ini dalam HPN,’’ kata salah seorang jurnalis Asep Amani.

Kegiatan ini juga dihadiri tokoh agama KH Yusuf Khudori alias Gus Yusuf. Gus Yusuf pun berkesempatan menyampaikan orasinya terkait pers. Menurutnya, peran media luar biasa, sehingga ada istilah siapa menguasai informasi hari ini maka dialah yang akan menguasai dunia.

“Maka, media sebagai pilar demokrasi diharap makin kokoh bersama rakyat dan turut membangun Indonesia ke depan yang sehat, waras, dan berkebudayaan,” ungkapnya.

Pengasuh Ponpes API Tegalrejo Kabupaten Magelang ini pun menyinggung betapa bahaya dan rusaknya dunia dan Indonesia, kalau informasi dipenuhi dengan hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian. Maka yang ada adalah kehancuran dan kehancuran.

Dia berharap para jurnalis media arus utama dan medsos betul-betul arif serta bijak dalam bermedia. Khususnya media sosial berhati-hati dalam menggunakan medianya agar apa yang dimediakan membawa manfaat dan maslahat. “Kita harus bersama-sama perangi berita bohong,” tandas Gus Yusuf.(dem/din/riz)