Dengan tangan dinginnya, Lasiyo Syaifudin sanggup mengubah image pisang. Dari hanya tanaman pekarangan rumah menjadi bernilai ekonomi tinggi.

BANTUL, Dwi Agus

BAGI sebagian publik di DIJ nama Lasiyo Syaifudin terdengar asing. Namun, ketika menyebut namanya di kalangan petani pisang responsnya bakal berbeda. Bahkan, di antara mereka ada yang menyebutnya dengan predikat heroik: pahlawan pisang.

Ya, Mbah Lasiyo, begitu dia akrab disapa, adalah sosok penting di balik moncernya pisang. Terutama, berbagai jenis pisang lokal. Jenis tanaman yang dulu dianggap sebelah mata karena tidak memiliki nilai ekonomi tinggi.

”Monggo, Mas. Saya sambi menata tanaman pisang dulu nggih,” ucap Mbah Lasiyo di sela kesibukkannya belum lama ini.

Hari itu, seperti hari-hari biasanya, pria yang tinggal di Dusun Ponggok, Sidomulyo, Bambanglipuro, tersebut hampir tak pernah jauh dari tanaman pisang. Saban hari, pria 64 tahun itu selalu melihat dan mengecek kebun mini di samping rumahnya.

Di sana, ada ratusan polybag berwarna hitam. Tertata rapi. Seluruhnya berisi bibit pisang. Dari berbagai varietas.

”Ada 20 varietas unggul bibit pisang,” sebutnya.

Kondisi Lasiyo saat ini berbanding terbalik dengan 12 tahun silam. Persisnya pada 2006. Saat itu Lasiyo limbung. Perekonomiannya terpuruk. Setelah gempa bumi meluluh-lantakkan rumahnya. Tak ada yang tersisa saat malaise hebat itu. Namun, di titik nadir inilah gagasan budidaya pisang itu lahir.

”Usul ke pemerintah desa (pemdes) agar ada bantuan budidaya pisang kepada korban gempa,” kenangnya.

Namun, usulan pria kelahiran 1955 ini menemui banyak tantangan. Tidak sedikit yang menolak lantaran ide itu sulit diterapkan. Tapi, bukan Lasiyo jika patah arang. Dia tetap bersikukuh meyakinkan pemdes. Hingga pemdes memberikan sinyal lampu hijau. Dengan mengeluarkan peraturan desa yang mengatur pemberian bantuan.

”Juga mengatur pembelian bibit pisang milik warga oleh pemerintah. Saat itu untuk satu bibit dihargai Rp 5 ribu per batang,” tutur Lasiyo menyebut saat itu dia menanam 100 bibit pohon pisang raja di lahan miliknya.

Baru setahun berjalan, gagasan Lasiyo ini dilirik. Berbagai perguruan tinggi hingga pemerintah turun tangan memberikan beragam pelatihan. Mulai pelatihan penangkaran, pembibitan, penanganan penyakit, hingga pengolahan menjadi bibit siap jual. Sasarannya seluruh warga yang membudidayakan pisang.

”Sekarang ada raja bulu, raja bagus, klutuk, ambon barangan hingga raja kuning. Ada pula bibit pisang emas kirana, pisang emas saling Jogja, pisang kongo, dan pisang gading,” ungkap bapak dua anak ini.

Ibarat pengalaman adalah guru terbaik, Lasiyo sudah kenyang dengan berbagai kiat merawat bibit pisang berkualitas. Menurutnya, penggunaan pupuk kompos lebih baik dibanding obat kimia atau pestisida.

”Sudah lebih dari tujuh kali bereksperimen untuk mendapatkan ramuan yang pas,” tutur Lasiyo mengungkapkan tanaman pisangnya pernah mati karena eksperimannya.

Berbagai eksperimen itu pula yang menjadikan kualitas bibit pisang milik Lasiyo lebih terjaga. Harganya pun lebih mahal. Jika harga bibit pisang reguler Rp 8.000, produk Lasiyo dipatok Rp 12 ribu.

”Untuk harga per tandan siap panen kisaran Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu,” sebutnya.

Kini, pria yang pernah diundang ke Italia sebagai narasumber pembibitan pisang ini memiliki lahan seluas 1.300 meter persegi. Seluruhnya ditanami berbagai jenis pisang. Sedangkan pembibitan memanfaatkan lahan di samping rumahnya.

”Sekarang bersama kelompok petani pemakai air mendirikan koperasi Agromirasa Bantul Yogyakarta (Amboy). Anggotanya sudah 33 orang dari 12 kecamatan di Bantul. Memanfaatkan tanah kosong dan gersang sebagai budidaya bibit pisang,” tambahnya. (zam/riz)