MAGELANG – Pemkot Magelang menjadi terlapor dalam dugaan eksploitasi dan penelantaran anak dalam kirab penyambutan Penghargaan Adipura 2018, 30 Januari lalu.

Sebagai acuan pelaporan itu adalah UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pelapornya adalah Tutur Agung Nugroho beralamatkan di Kampung Tidarsari, Tidar Selatan, Magelang Selatan.

Pelaporan dilakukan 31 Januari atau satu hari setelah kirab Adipura ke Polres Magelang Kota. Menurut Agung, laporan telah diterima kepala Unit (Kanit) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Magelang Kota Iptu Retno Rahayu. Melalui piket Satreskrim Polres Magelang Kota Bripda Moch Afik, Agung memberi keterangan sekitar 2,5 jam mulai pukul 11.00.

“Saya jelaskan ke polisi, dugaan pelanggaran terhadap anak-anak terjadi saat siswa diminta berbaris di Jalan A Yani dan Jalan Pemuda hingga Jalan Sudirman. Anak-anak diminta berbaris sebelum pukul 13.00. Tetapi kirab baru jalan menjelang pukul 15.00,” tuturnya.

Ditanya di mana ada dugaan eksploitasi dan penelantaran anak, Agung menilai dari sisi rasa yang tertekan yang muncul dari para siswa. Anak-anak dieksploitasi untuk berpanas-panas dan berhujan-hujan untuk sekadar menunggu kirab yang sebenarnya masih ada cara lain untuk pendidikan karakter ataupun pengenalan soal kebersihan.

“Saat berdiri di pinggir jalan berjam-jam, mereka kelaparan dan kehausan. Karena mereka hanya diberi arem-arem dan minuman kemasan gelas. Itu pun arem-aremnya pedas, sehingga banyak yang tidak mau makan. Ini kan jelas penelantaran,” ungkapnya.

Soal adanya fakta para siswa kemudian bergembira dan tertawa saat rombongan kirab datang, menurut Agung, hal itu adalah kondisi yang berbeda. “Saat rombongan kirab datang sudah mendung. Tidak panas lagi. Juga mereka diminta untuk tersenyum. Jadi kondisinya sudah berbeda saat mereka kepanasan dan kelaparan,” ujarnya.

Ppria yang aktif di LSM Human Right Defender ini mengaku tidak ingin mempidanakan siapa pun. Hanya saja, dia berharap kasus anak-anak disuruh berjejer di pinggir jalan berjam-jam untuk sekadar menyambut kirab, tidak terulang lagi.

“Mungkin bisa saja Adipuranya yang ke sekolah. Jangan anak-anaknya yang suruh berbaris kepanasan di pinggir jalan berjam-jam,” tandas pria yang biasa disapa Agung Begawan Prabu ini.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Magelang Kota AKP Rinto membenarkan adanya laporan itu. Saat ini kasusnya masih dalam penyelidikan. “Masih proses lidik,” ujar Rinto. (dem/laz/riz)