Pergantian tahun identik dengan lembaran baru. Banyak yang berharap bergantinya tahun berujung dengan perubahan nasib. Pun dengan bisnis properti.

Kabar baiknya, bisnis properti pada tahun ini masih terus berkembang. Berdasar penerawangan ahli Feng Shui, bisnis properti selaras dengan shio tahun ini. Yakni, Babi Tanah. Lantaran properti merupakan bisnis yang memiliki unsur tanah, kayu, dan logam. Nah, bisnis-bisnis semacam ini pada tahun Babi Tanah masih akan diminati. Terutama di kota-kota besar, seperti DIJ.

”Sebab, di sini (DIJ, Red) merupakan kota wisata, budaya, dan pelajar,” kata Sekretaris DPD REI DIJ Ilham M Nur belum lama ini.

Faktor lain yang mendorong berkembangnya bisnis properti adalah DIJ memiliki pasar yang unik. Tiap segmen hunian memiliki pangsa pasar sendiri. Tak terkecuali segmen hunian elite.

”Semahal apa pun itu pasti terjual karena sudah ada pasarnya,” ucap Ilham optimistis bahwa bisnis properti tetap stabil tahun ini.

Kendati begitu, Ilham tetap merasa waswas. Lantaran 2019 juga merupakan tahun politik. Di mana tahun politik selalu membawa dampak negatif terhadap pasar.

”Ada penurunan (penjualan selama tahun politik), sehingga harapannya setelah April bisa meningkat lagi penjualannya,” harapnya.

Ketua DPD REI DIJ Rama A Pradipta tak kalah optimistis. Dia memprediksi penjualan selama tahun politik memang bakal lesu. Namun, kondisi itu hanya berlangsung Januari-April 2019.

”Karena semua masih menahan untuk membeli produk properti,” ujarnya.

Meski seluruh segmen laku, Rama menyebut hunian murah paling diincar. Tepatnya rumah bersubsidi. Lantaran tren konsumen di DIJ cenderung membeli rumah untuk dijadikan sebagai hunian. Bukan investasi. Kalau pun ada yang berinvestasi, itu bukan konsumen lokal.

”Yang banyak berinvestasi justru konsumen luar daerah,” katanya.

Sayangnya, Rama mengeluh tingginya permintaan pasar di DIJ tidak berbanding lurus dengan ketersediaan lahan.

”Padahal, permintaan tiap tahun kian tinggi,” tambahnya. (har/zam/tif)