JOGJA – Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sejak beberapa waktu lalu telah meluncurkan program unggulan. Namanya program Restorasi Sosial dengan tema Gerbangpraja. Itu merupakan akronim dari Gerakan Bangga Penggunaan Aksara Jawa.

“Untuk memudahkan dalam komunikasi sehari-hari, disingkat dengan sebutan Gerbangpraja,” ujar Kepala Dinas Sosial DIY Untung Sukaryadi, Selasa (12/2).

Restorasi Sosial “Gerbangpraja” dilakukan dalam bentuk sarasehan. Peluncuran kali pertama dilakukan Gubernur DIY Hamengku Buwono X di Bangsal Kepatihan pada 9 Oktober 2018. Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada Oktober-Desember 2018  dengan menyasar 18 titik kecamatan.

Kemudian dilanjutkan pada Januari-Desember 2019. Ada 60 titik kecamatan yang menjadi sasaran. “Totalnya 78 kecamatan se-DIY. Setiap sarasehan melibatkan 100 orang tokoh masyarakat,” terang dia. Metode yang digunakan berupa ceramah, diskusi, tanya jawab dan hiburan.

Hasil yang diharapkan dari Restorasi Sosial “Gerbangpraja” ini meliputi terbangunnya karakter generasi muda yang modern namun tetap Jawani dalam memerteguh kebhinekaan dan tertanamnya rasa bangga terhadap aksara Jawa.

“Kami ingin generasi muda mau menengok khasanah literasi yang sudah kita miliki. Memelajari dan memahami adalah sebuah sikap. Menengok, mengajak, menyebarkan dan mengaplikasikan dalam kehidupan sosial menjadi tanggung jawab sosiokultural,” ingat Untung.

Gubernur DIY Hamengku Buwono X dalam pengarahannya kembali mengingatkan bahasa dan aksara Jawa punya fungsi ganda. Bersifat primer berupa dokumen tertulis yang disebut fungsi literer  dan bersifat sekunder yang mengandung fungsi estetik serta kultural.

Dalam penguatan budaya Jawa di kehidupan global, pembinaan fungsi literer-lah yang diutamakan. Maksudnya dengan menggali sumber-sumber kearifan Jawa sebagai studi filosofis guna membentuk watak dan pekerti bangsa yang unggul.

Fungsi literer  terkait dengan ide atau buah pikir dalam tradisi tulis. Itu termuat dalam prasasti, piagam, naskah atau manuskrip. Kemudian serat, babad, primbon dan eksiklopedi. “Seperti Serat Centhini, weweler, angger-angger, paugeran, pranatan, sabdatama, dawuhraja, surat dan bentuk-bentuk dokumen tertulis lainnya,” ujar HB X.

Diakui, perlu usaha-usaha tak kenal lelah untuk memberi ruh fungsi literer  dalam konteksi zaman agar bermanfaat bagi kehidupan masa kini. Generasi sekarang dapat berkaca dari nilai-nilai adiluhung yang tersimpan di ribuan manuskrip Jawa.

Selain itu, juga diikuti pengembangan fungsin estetik dan kultural dalam bentuk karya cipta kreatif-estetik di beragam cabang seni. “Ini agar bisa berbicara di percaturan global,” tegas gubernur.

Lebih jauh dikatakan, perkembangan aksara Jawa terkait erat dengan perkembangan bahasa Jawa. Secara alami, semula bahasa Jawa lahir sebagai alat komunikasi lisan. Bahasa Jawa yang dilisankan seperti umumnya bahasa ragam lisan yang terikat oleh waktu dan tempat.

Aksara Jawa dasarnya adalah huruf hidup. Apapun pasangannya akan tetap hidup. Aksara Jawa menjadi mati jika dipangku. Di mana tulisannya menggantung pada lapisan atas tapi juga tidak menginjak garis bawah.

“Inilah yang perlu diingatkan bagi kalangan atas dalam menghadapi pangkuan arus deras globalisasi. Senantiasa eling lan waspada. Berbeda dengan fenomena di Desa Tegaltirto, Berbah, Sleman yang tidak perlu diingatkan, tapi malah layak diapresiasi,” kata gubernur.

Di desa itu, sejak 2016 digalakkan gerakan pembudayaan aksara Jawa sebagai edukasi masyarakat melestarikan pranatan sosial Jawa. Juga dalam rangka penguatan local branding  produk UMKM dengan tulisan aksara Jawa. “Sekaligus media resistensi terhadap maraknya budaya global yang sudah masuk ke desa,” ingat HB X. (kus/tif)