BANTUL – Perbuatan Johanes Ananto Tripawono sungguh nekat dan keterlaluan. Dia tak hanya mengaku sebagai seorang inspektur jenderal polisi. Ke mana-mana menenteng senjata api (senpi). Hingga aksinya itu diketahui polisi saat berada di Jalan Soedirman, Bantul, Jumat (8/2) lalu. Johanes ketahuan membawa pistol jenis Glock. Saat ditanya aparat ihwal identitasnya, pria asal Jakarta itu menunjukkan kartu anggota kepolisian. Lengkap dengan surat izin kepemilikan senpi. Namun dia tak bisa menunjukkan surat izin penggunaan senpi. Pelaku berdalih sedang berdinas di Jogjakarta.

Tak percaya begitu saja, anggota Satreskrim Polres Bantul melakukan pengintaian terhadap pelaku. “Kami lantas memverifikasi ke Polda Metrojaya. Dipastikan tidak ada anggota maupun surat perintah tugas atas nama tersangka,” ungkap Kasatreskrim Polres Bantul AKP Rudy Prabowo Minggu (12/2).

Informasi dari Polda Metrojaya menguatkan kecurigaan anggota Satreskrim Polres Bantul. Bahwa surat izin kepemilikan senpi dan keanggotaan polisi yang dipegang Johanes palsu.

Polisi lantas memancing pelaku untuk bertemu lagi Sabtu (9/2). Pelaku lantas digelandang ke Mapolres Bantul untuk diperiksa lebih lanjut. Hasil pemeriksaan menunjukkan, pelaku adalah seorang karyawan perusahan swasta di Jakarta. Dia juga memiliki dua buah magasin dan peluru aktif kaliber 19 milimeter sebanyak 12 butir.

“Pelaku juga memilki sarung senjata (holster) dan lencana Badan Intelijen Negara,” beber Rudy.

Sejauh ini penyidik belum mengetahui pasti motif pelaku membawa senpi dan mengalu sebagai inspektur jenderal polisi. Dia belum bisa memastikan kemungkinan pelaku akan melakukan tindak penipuan atau pemerasan terhadap orang lain. Terlebih hingga kemarin belum ada aduan masyarakat di wilayah Bantul yang mengeluhkan keberadaan pelaku. Kendati demikian, Rudy berjanji menuntaskan penyelidikan atas kasus tersebut. “Kasus ini masih kami dalami. Kepemilikan senjata api secara ilegal saja sudah merupakan kejahatan,” tegas Rudy.

Akibat perbuatannya, Johanes dijerat pasal 1 Undang-Undang Darurat RI No. 12 Tahun 1951. Dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup. Atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya selama dua puluh tahun.

Sementara itu, saat diinterogasi penyidik Johanes mengaku mendapatkan identitas palsu dan senpi dari seseorang di Jakarta dengan harga Rp 60 juta. (cr5/yog/tif)