MAGELANG – Sepuluh tahun lebih pasca terbakar 26 Juni 2008, Pasar Rejowinangun Kota Magelang kini mulai menunjukkan kelasnya. Sebagai pasar rakyat yang pernah menyandang terbesar di eks Karesidenan Kedu, kini telah memperoleh Sertifikat Nasional Indonesia atau SNI:8152 :2015. Pasar yang dibangun kembali era Wali Kota Sigit Widyonidito ini tercatat sebagai pasar rakyat dengan kategori mutu 2 untuk pasar tipe 1 atau jumlah pedagang lebih dari 750 orang.

“Pasar Rejowinangun ini merupakan pasar rakyat kelima di Provinsi Jawa Tengah dan pasar ke-30 di seluruh Indonesia yang bersertifikasi SNI,” kata Deputi Bidang Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian Badan Standardisasi Nasional (BSN) Zakiyah pada acara penyerahan sertifikasi SNI di halaman Lantai 2 Pasar Rejowinangun, Selasa (12/2).

Zakiyah mengatakan, penerapan SNI bagi pasar rakyat,  tidak hanya menguntungkan para pedagang. Tetapi juga menguntungkan para konsumen. Karena SNI pasar rakyat menekankan faktor kebersihan, kesehatan, keamanan dan kenyamanan baik bagi konsumen maupun para pedagangnya.

“Pemberian sertifikasi SNI ini sekaligus menghilangkan kesan  masyarakat terhadap pasar rakyat adalah kumuh dan becek,” ujarnya.

Dijelaskan beberapa alasan yang mendasari pemberian sertifikasi SNI bagi Pasar Rejowinangun. Di antaranya telah memenuhi kriteria seperti ramah bagi para ibu menyusui dengan adanya fasilitas ruang menyusui, penitipan anak, toilet  dengan jumlah minimal empat buah dan bersih .

“Meskipun telah diberi sertifikasi SNI, kami tetap akan melakukan pemantauan. Karena sertifikasi SNI ini berlaku tiga tahun. Bila dalam kurun waktu itu tidak lagi sesuai dengan kriterianya, maka kami bisa mencabut kembali sertifikasi SNI tersebut,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina mengatakan, di wilayahnya ada empat pasar rakyat. Yakni Pasar Rejowinangun,  Kebonpolo, Cacaban dan  Pasar Gotong Royong. “Dari empat pasar rakyat yang ada di Kota Magelang ini, Pasar Rejowinangun yang merupakan pasar rakyat terbesar  telah ber-SNI. Semoga pasar lainnya bisa menyusul,” harap Windarti.

Diungkapkan, pada tahun 2017 pasar itu pernah meraih penghargaan dari Kementrian Perdagangan sebagai pasar tradisional terbaik nasional dan meraih penghargaan Pancawara kategori pasar dengan pedagang lebih dari 500 orang. (dem/laz/tif)